TANJUNG, kontrasx.com- Suasana ceria dan penuh semangat mewarnai kegiatan TARIMA (Tataringin Riang Membaca) yang digagas oleh mahasiswa KKN STIT Syekh Muhammad Nafis Tabalong di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Tantaringin, Kecamatan Muara Harus, Kamis (03/9)
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program mahasiswa KKN dalam menghadirkan aktivitas edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak di Desa Tantaringin.
Kegiatan ini diikuti oleh siswa SDN 1 Tantaringin, SDN 2 Tantaringin, serta TK Pembina Muara Harus. Sejak pagi, anak-anak antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang dikemas secara interaktif. Mahasiswa KKN mengawali kegiatan dengan senam bersama, dilanjutkan dengan berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk meningkatkan keceriaan, kekompakan, sekaligus merangsang kreativitas dan keberanian anak.
Tak hanya menghadirkan kegiatan permainan, TARIMA juga menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa KKN dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPERSIP) Kabupaten Tabalong dalam memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat.
Dalam kolaborasi tersebut, DISPERSIP mengisi kegiatan dengan Story Telling dan Bimbingan Pemustaka.Melalui Story Telling, anak-anak diajak menikmati cerita dengan cara yang menyenangkan sekaligus mengambil nilai-nilai positif dari cerita yang disampaikan.
Sementara melalui Bimbingan Pemustaka, anak-anak diperkenalkan cara memanfaatkan perpustakaan dan bahan bacaan secara baik.
Kepala Bidang Layanan dan Pengembangan Koleksi DISPERSIP Tabalong, Subhan, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa KKN yang telah menghadirkan kegiatan literasi dengan pendekatan sesuai dengan dunia anak.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan TARIMA yang digagas oleh mahasiswa KKN STIT Syekh Muhammad Nafis. Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa literasi tidak harus dilakukan dalam suasana yang formal, tetapi dapat dikemas melalui permainan, cerita, aktivitas fisik dan interaksi yang menyenangkan” ujarnya.
Subhan mengatakan keberadaan RTH Desa juga dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai ruang rekreasi, tetapi sebagai ruang publik untuk belajar, bermain dan menumbuhkan budaya membaca.
“Kami berharap kegiatan seperti TARIMA dapat terus dikembangkan dan menjadi pemantik bagi masyarakat, khususnya anak-anak, untuk semakin dekat dengan buku, perpustakaan dan berbagai sumber pengetahuan” ucapnya
Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa, sekolah, desa dan Dispersip menjadi kekuatan dalam membangun budaya literasi di Tabalong.
Sementara itu, M Zaid Fudaili, mahasiswa KKN STIT Syekh Muhammad Nafis Tabalong, menyatakan TARIMA merupakan upaya mahasiswa menghadirkan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan bagi anak-anak selama pelaksanaan KKN di Desa Tantaringin.
“Kami ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya membuat anak-anak senang, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang positif. Melalui TARIMA, kami menggabungkan senam, permainan edukatif dan kegiatan literasi agar anak-anak dapat belajar sambil bermain ungkapnya.
Zaid menegaskan kolaborasi dengan Dispersip memberikan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa maupun peserta kegiatan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Dispersip yang telah berkolaborasi dalam kegiatan ini, melalui Story Telling dan Bimbingan Pemustaka. Kami berharap kegiatan TARIMA dapat memberikan kesan positif bagi anak-anak dan menjadi salah satu kegiatan yang dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat Desa Tantaringin” tuturnya.
Di kegiatan TARIMA, anak-anak terlihat aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga akhir.
Melalui TARIMA, RTH Desa Tantaringin tidak hanya menjadi ruang terbuka untuk beraktivitas, tetapi juga hadir sebagai ruang belajar dan ruang tumbuh bagi anak-anak.
Kolaborasi antara mahasiswa KKN, sekolah, pemerintah desa dan Dispersip diharapkan dapat terus berkembang dalam menghadirkan berbagai kegiatan literasi yang inovatif, menyenangkan dan berdampak bagi masyarakat. (Sem)
































































