Oleh : H Kadarisman, Presidium KAHMI Tabalong
Ada ibrah di tiap sisi kehidupan. Ada hikmah dan pengajaran di baliknya—terlepas apakah kejadian itu terjadi pada diri sendiri atau orang lain.
Panggung perwayangan politik, misalnya, mengajarkan banyak hal. Jika diamati dengan baik, bagaimana sebuah dinamika terjadi dapat memberi ruang introspeksi bagi kita, padahal kita sendiri sedang tidak terlibat. Sebab, mengambil pelajaran tidak selalu harus ikut mengalami.
Ibrah dialektika ini bermula dari imbauan diplomat senior, Dino Patti Djalal, kepada Presiden Prabowo sebagai sahabat masa lalunya. Dengan bahasa santun khas diplomat, Dino meminta agar dipertimbangkan pengurangan kunjungan kerja (kunker) ke luar negeri yang bisa membakar ratusan miliar rupiah di saat rupiah sedang tidak berdaya.
Imbauan itu dia buat berdasarkan pengalaman diplomatiknya, dikemas dengan diksi yang lembut serta frasa yang dapat mengaktifkan gelombang pikiran alpha. Melihat imbauan tersebut, jelas posisinya adalah sebagai seorang negarawan yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan sempit, apalagi kebencian.
Saran itu boleh jadi bernilai, boleh juga tidak. Bisa saja itu penting, atau justru tidak penting. Imbauan hanyalah sebuah saran, diabaikan pun tak mengapa. Sebab, sebuah saran bukanlah rentetan peluru yang mengancam kekuasaan.
Persoalan kemudian muncul ketika pemerintah, melalui Seskab Teddy dan Ketua Komisi III DPR Habibururohman, memberi respons. Masalahnya bukan pada keputusan untuk menanggapi sebuah saran, melainkan pada cara meresponsnya.
Sekelas Ketua Komisi III DPR dan Seskab ternyata gagal menangkap substansi dari sebuah pesan. Imbauan itu dijawab dengan suasana kebatinan yang begitu rapuh dan labil. Alih-alih menjawab imbauan dengan argumen yang kuat, mereka justru terjebak ke dalam kecacatan logika (logical fallacy).
Alih-alih menjawab substansi yang disampaikan Dino, Ketua Komisi III Habibururohman merespons secara emosional dengan menyebut bahwa Dino hanya pernah menjabat sebagai wakil menteri selama tiga bulan. Bahasa lainnya: “sok pintar”.
Padahal, sepanjang kariernya, Dino menghabiskan waktu sebagai diplomat profesional. Jawaban defensif ini langsung jatuh pada klasifikasi cacat logika ad hominem, straw man, sekaligus tu quoque.
Ibrah atau hikmah yang bisa kita petik adalah: jangan panik ketika kritik datang. Fokuslah pada substansi kritik, dan siapkan jawaban substansial serupa dengan tenang tanpa perlu merendahkan pribadi siapa pun.
Sebagai pribadi, apalagi pejabat negara, kritik adalah sebuah keniscayaan. Tak ada kekuasaan dalam sistem demokrasi yang dapat membuat suara-suara itu diam. Biarkan rakyat menggunakan haknya untuk bersuara.
Kekuasaan juga memiliki hak untuk menjawab suara itu sesuai substansinya dengan tetap menjaga kemesraan komunikasi. Dialektika di ruang publik membutuhkan kepiawaian etik yang dewasa, sebab publik hari ini cerdas dan sedang memberikan penilaiannya: mana argumen yang sehat, mana yang cacat logika, dan mana yang sekadar ngawur.
Makkah, 3 Juni 2026































































