TANJUNG, kontrasx.com – Ketua Komisi ll DPRD Tabalong, H Winarto berharap Pemerintah Daerah melakukan evaluasi terkait belum adanya regulasi keharusan sopir truk membeli Dexlite bila ingin mendapat BBM bersubsidi jenis Bio Solar.
Hal tersebut diutarakannya usai pertemuan DPRD Tabalong dengan perwakilan sopir truk, beberapa waktu lalu.
“Para sopir menuntut agar bisa mengisi BBM 80 liter per unit dan berharap tidak dilakukan mix antara dexlite dan bio solar” ujarnya.
Winarto menyatakan dari perwakilan PT Pertamina Patra Niaga menerangkan bahwa mix BBM tersebut hanya trik pemasaran dari pihak SPBU.
“Dari perwakilan Pertamina Patra Niaga menyatakan kalau hal itu trik pemasaran dari SPBU, dan itu tidak ada aturan yang mengatur untuk melarang” jelasnya.
Menurutnya hal tersebut merupakan sebuah persoalan.
“Ini suatu persoalan juga bagi kita. Pemda harus melakukan evaluasi, kalau tidak ada aturan yang melarang ini akan jadi persoalan baru” tuturnya.
Winarto menyebutkan para sopir merasa dipaksakan untuk mengisi Dexlite yang harganya jauh lebih mahal dibanding Bio Solar.
“Dexlite harganya Rp 26.000 per liter, harus mengisi 30 liter dari kouta 80 liter. Mereka merasa keberatan. Kalau di mix harganya menjadi Rp 13.000 – Rp 17.000 per liter. Ini berdampak pada ekonomi kita, khususnya di sisi angkutan” ungkapnya.
Ia juga menyarankan agar pihak SPBU bisa memberikan layanan terbaik.
“Paling tidak untuk saat ini tidak dulu melakukan mix hingga berjalan normal” katanya. (Boel)
































































