Tanjung, kontrasX.com – Deru gemercik air pegunungan yang jernih berpadu dengan eksotisme batuan sungai yang menyembul ke permukaan, pernah menjadi magnet luar biasa bagi masyarakat Tabalong. Empat tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 2022, Wisata Batu Timbul DAM Nalui yang terletak di Desa Nalui, Kecamatan Jaro, adalah primadona. Ia menjadi destinasi favorit keluarga untuk melepas penat, khususnya saat akhir pekan tiba.
Namun kini, riuh tawa wisatawan dan kepulan asap mi instan di pinggir sungai itu perlahan senyap. Destinasi yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Tanjung ini mulai dilupakan dan ditinggalkan pengunjungnya.
Melihat kondisi terkini objek wisata alam tersebut sangat memprihatinkan. Fasilitas yang dulunya memanjakan pengunjung kini tampak merana akibat kurangnya perawatan.
Gazebo yang dulu menjadi tempat hangat bagi keluarga untuk menyantap bekal bersama, sebagian besar kini telah rusak dan lapuk dimakan usia. Bangku-bangku tempat bersantai pun sudah raib dari pandangan.
Kesan asri berubah menjadi terbengkalai. Semak-semak liar tumbuh tinggi menjulang tanpa ada lagi yang memotong dan membersihkannya.
Padahal, akses infrastruktur menuju lokasi ini terbilang sangat mumpuni. Jalanan beraspal mulus masih terbentang rapi, seolah siap menyambut kendaraan wisatawan kapan saja. Sayang, jalan yang bagus itu kini jarang dilewati pelancong.
“Sekarang memang sudah sepi, sangat sedikit sekali orang berkunjung ke Dam Nalui,” ujar salah seorang warga sekitar dengan nada lesu.
Saat wisata ini berjaya, roda ekonomi warga sekitarpun berputar. Warung-warung kopi dan mi instan milik warga lokal selalu diserbu pembeli, meski mereka tetap mempertahankan harga normal yang ramah di kantong.
Kecamatan Jaro sebenarnya adalah lumbung wisata alam di wilayah paling ujung utara Kabupaten Tabalong. Selain DAM Nalui, kecamatan ini masih menyimpan beberapa objek wisata alam memukau lainnya yang hingga kini masih eksis dan bisa dinikmati.
Kini, nasib Batu Timbul DAM Nalui berada di persimpangan jalan. Akankah ia dibiarkan terkubur oleh semak belukar, atau akan ada gerakan restorasi yang mampu mengembalikan kejayaannya sebagai surga wisata keluarga di Tabalong? (na)

































































