Jakarta, kontrasx.com – Fenomena “anomali” terjadi pada prediksi jumlah pemudik Lebaran 2025. Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama sejumlah akademisi, jumlah pemudik diperkirakan turun 24,34% dari 193,6 juta pada tahun lalu menjadi 146,48 juta.
Meskipun Kemenhub tidak memaparkan penyebab penurunan tersebut, pengamat ekonomi menduga bahwa lesunya daya beli masyarakat, masifnya pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga pengurangan bantuan sosial menjadi faktor kuat pemicu fenomena ini.
“Benar, besaran potensi pergerakan masyarakat saat mudik lebaran tahun ini (2025) mengalami penurunan dibanding tahun lalu,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub, Budi Rahardjo, Sabtu (22/03), seperti dilansir dari Antara.
Dilansir dari BBC News Indonesia kisah pilu Supriyono dan Hamidah, dua dari ratusan buruh yang terpaksa mengurungkan niat mudik karena keterbatasan biaya akibat PHK, menjadi potret nyata kondisi tersebut. Tabungan mereka yang menipis hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sedih tidak bisa kumpul bareng keluarga, tapi mau bagaimana tabungan menipis dan dipakai benar-benar untuk kebutuhan primer saja,” ungkap Supriyono dengan nada lirih.
“Saya enggak bisa pulang karena ongkosnya mahal, terus nanti balik ke Jakarta biaya lagi. Enggak mungkin kita pulang, enggak kasih apa-apa kan?” keluh Hamidah.
Penurunan jumlah pemudik ini menjadi perhatian serius, karena mudik telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia. Fenomena ini juga menjadi indikasi adanya masalah ekonomi yang perlu segera diatasi.
Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah ini, agar tradisi mudik Lebaran tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Faktor-faktor yang diduga memicu penurunan:
- Lesunya Daya Beli Masyarakat: Kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi membuat masyarakat berpikir dua kali untuk mudik.
- Masifnya PHK: Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan, sehingga tidak memiliki cukup dana untuk mudik.
- Pengurangan Bantuan Sosial: Pengurangan bantuan sosial dari pemerintah memperparah kondisi ekonomi masyarakat kelas bawah.































































lah, itu kan angka proyeksi. perkiraan. emangnya, seberapa akurat dg realisasinya?
pdhl, skrg kan periode arus mudik udah terjadi.
harusnya udah ada angka REALISASINYA.
lah kok analisanya masih bergantung pada angka perkiraan? itu analisis apaan macam itu?
pake angka realisasi aja. wong udah ada.
dari situ baru analisis nya akan akurat.