TANJUNG, kontrasx.com – Belum juga diketahui masyarakat Desa Masukau hasil uji laboratorium air sungai Jaing yang warnanya berubah jadi coklat kehitaman yang terjadi minggu lalu, kini kejadian serupa terulang kembali.
Hari ini air sungai Jaing kembali berubah menjadi coklat kehitaman, bahkan lebih pekat dari sebelumnya.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Masukau, Khairullah.
“Kondisinya lebih parah dari sebelumnya, airnya lebih hitam lagi” terangnya pada kontrasx.com, Rabu (11/3).
Melihat kondisi air sungai Jaing yang kondisinya lebih parah dari peristiwa sebelumnya, Khairullah meminta pengelola PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) untuk menghentikan operasionalnya karena dikhawatirkan akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
“Kita minta pengelola Pamsimas untuk tak menyedot air di Jaing, hentikan dulu” ujarnya.
Padahal, terangnya, air Pamsimas dimanfaatkan oleh puluhan Kepala Keluarga (KK) di RT 03 dan 04.
“Kita minta solusi dari pemerintah daerah maupun instansi terkait. Bagaimana memenuhi kebutuhan air warga di dua RT ini” imbuhnya.
Ia pun mengaku sudah berkomunikasi dengan pihak Pertamina untuk meminta bantuan air bersih.
“Kalau misal tidak di respon alternatifnya kita mencoba minta bantuan BPBD” tukasnya.
Khairullah pun sangat menyayangkan kejadian ini terus berulang-ulang tanpa ada tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun instansi terkait.
“Tolong selesaikan persoalan ini. Jangan setengah-setengah, tangani sampai selesai. Atasi benar-benar” ucapnya.
“Setelah kejadian minggu lalu, sungai jaing airnya sempat kembali bagus, ini terulang lagi. Hasil uji lab sebelumnya saja belum lagi keluar, ini airnya sudah kembali menghitam” bebernya.
Terpisah, Ketua BPD Desa Masukau, M Yusuf mempertanyakan keseriusan Dinas terkait menangani persoalan ini.
“Bagaimana pengawasan dari DLH, kejadian ini terulang lagi. Apakah permasalahan ini tidak sampai ke pelaku usaha” katanya.
Menurutnya, andai saja ada keseriusan dari pihak pemda melalui instansi terkait menyelesaikan persoalan ini, tentu tidak sulit.
“Ini kelihatan jelas, bukan barang gaib yang tidak kelihatan. Kalau ditelusuri pasti ketemu penyebabnya. Alurnya dari sungai, tinggal ditelusuri. Masa tidak ketemu sumbernya dimana” tandasnya.
Yusuf juga menyatakan masyarakat menunggu keseriusan DLH dalam menyingkap persoalan yang melanda sungai Jaing.
“Apa penyebabnya, siapa pelaku usahanya. Kita tunggu keseriusan DLH” tegasnya.
Terpisah, beberapa orang warga Desa Masukau mencoba menelusuri aliran sungai yang terdampak hingga ke daerah hulu.
Suwardi, yang ikut menelusuri sungai menerangkan warga ingin memastikan dari mana air coklat kehitaman ini mengalir.
“Dari jembatan di sungai ulin ini airnya sudah hitam, bahkan lebih pekat dari di Masukau. Anak sungai ini maupun sungai Masingai bermuara ke sungai Jaing” terangnya.
Melihat kondisi daerah hulu Jaing yang airnya masih menghitam, ia memperkirakan 4 hingga 5 hari kedepan kondisi seperti ini akan tetap berlangsung di Masukau yang menjadi muaranya.
“Kalau dihulu saja airnya masih hitam, bagaimana kita di hilirnya. Bisa sampai 4 atau 5 hari air di Masukau akan hitam juga” pungkasnya. (Boel)































































