Tanjung, kontrasx.com – Industri minyak dan gas bumi (migas) kerap kali dicitrakan sebagai ladang emas yang glamor dan penuh pundi-pundi rupiah. Namun, di balik gemerlapnya pasokan energi yang kita nikmati setiap hari, industri ini sebenarnya seperti berdiri di atas panggung judi teknologi berkos tinggi.
Sisi ekstrem dan realitas di balik industri ini dikupas tuntas oleh Manager Communication Relation & CID PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Regional 3, Donny Indrawan, dalam acara silaturahmi hangat “Baso Iga PHI” bersama para jurnalis Tabalong di Tanjung, Kamis (11/6).
Donny membeberkan bahwa siklus kontrak kerja sama migas di Indonesia adalah komitmen jangka panjang selama 30 tahun untuk kontrak pertama, dan opsi perpanjangan per 20 tahun. Menariknya, 10 tahun pertama habis hanya untuk fase eksplorasi alias berburu mencari sumber baru.
Dalam perburuan ini, tidak ada ruang untuk hal mistis; semuanya murni mengandalkan sains, teknologi tinggi, dan keahlian manusia. Sialnya, probabilitas kegagalan selalu mengintai. Di dunia migas, “zonk” atau gagal bor adalah makanan sehari-hari, namun biaya yang hangus sangatlah fantastis.
“Satu pengeboran eksplorasi atau eksploitasi di darat saat ini memakan biaya antara 7 hingga 10 juta dolar AS. Jika kita konversikan dengan kurs saat ini, itu setara dengan sekitar Rp170-an miliar untuk satu kali bor,” ungkap Donny.
Uang ratusan miliar tersebut, lanjut Donny, bisa lenyap begitu saja jika sumur yang dibor ternyata kering atau tidak ekonomis untuk diproduksi.
Ia bahkan menceritakan pengalaman pahit di perusahaan sebelumnya saat mengeksplorasi Papua. Dana sebesar 400 juta dolar AS (sekitar Rp7,2 triliun) ludes namun hasilnya nihil karena kandungan migasnya terlalu kecil.

Untuk memudahkan orang awam memahami karakteristik sumur migas, Donny menganalogikannya seperti fase kehidupan manusia, Fase Primer “Si Gadis Lincah” Ini adalah masa awal produksi. Sumur migas penuh energi, minyak menyembur ke permukaan dengan mudah berkat tekanan alami yang tinggi. Di fase ini, biaya operasional sangat murah.
Fase Akhir atau “Fase Manula” Ketika sumur memasuki usia 15 hingga 20 tahun ke atas seperti yang terjadi pada sumur-sumur tua di Lapangan Tanjung saat ini.
“Untuk mengangkat sisa-sisa minyak, diperlukan teknologi tambahan (treatment) dan perawatan intensif. Akibatnya, biaya operasional membengkak secara signifikan seperti kebutuhan listrik pompa yang raksasa hingga penggantian pipa khusus, sementara volume minyak yang dihasilkan justru semakin mengecil,” beber Donny.
Meski Lapangan Tanjung kini berstatus “manula” dengan produksi di kisaran 2.000 barel minyak per hari (bph), perannya tidak boleh dipandang sebelah mata. Kontribusinya sangat vital bagi ketahanan energi nasional.
“Saat ini, Indonesia mengalami defisit energi yang lebar, kebutuhan nasional mencapai 1,6 juta bph, sementara produksi dalam negeri baru mampu menyuplai 600-an ribu bph. Artinya, ada jurang 1 juta barel setiap hari yang terpaksa ditutupi lewat impor” imbuh Donny.
Dengan asumsi harga minyak mentah dunia berada di angka 100 dolar AS per barel, maka produksi 2.000 bph dari Lapangan Tanjung berhasil menyelamatkan devisa negara sebesar Rp3,6 miliar per hari dari beban impor.
“Jika Lapangan Tanjung “batuk” atau terganggu operasionalnya, maka negara harus mengeluarkan tambahan Rp3,6 miliar per hari untuk membeli minyak dari luar negeri. Oleh karena itu, keberlanjutan operasi ini harus kita jaga bersama,” tegas Donny menutup pemaparannya. (Na)

































































