Tanjung, kontrasx.com – Aroma rempah dan kehangatan kebersamaan kembali menyeruak dari tanah Tabalong. Di balik riuh puji syukur masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Tabalong atas kado indah dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada Jumat, 4 September 2026, tersimpan narasi mendalam tentang identitas, adab, dan penghormatan.
Tahun ini, tradisi “Makan Batalam Bakipas Pangeran” bersama “Bagunung Perak” resmi dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, menyusul jejak “Manyampir Buaya” yang telah lebih dulu ditetapkan pada 2025.
Namun, di balik megahnya sebutan “Bakipas Pangeran”, ada pesan moral kuat yang ingin ditegaskan, ini bukanlah perayaan feodalisme, melainkan perwujudan tertinggi dari budaya memuliakan tamu dan kesetaraan warga.
Camat Banua Lawas, Arianto, meluruskan kekeliruan pandangan yang kerap mengaitkan istilah “Bakipas Pangeran” dengan peninggalan hirarki feodal Kerajaan Banjar.
Sejarah memang mencatat bahwa kipas dan pelayanan khusus dahulu diperuntukkan bagi kalangan bangsawan. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi yang berpadu erat dengan syiar Islam khususnya saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini telah mengalami transformasi nilai yang luar biasa.
“Sejarahnya kita hormati, tetapi feodalismenya tidak perlu kita warisi. Nilai baiknya kita ambil, kemudian kita hidupkan dalam semangat kebersamaan dalam kesetaraan,” tegas Arianto.
Kini, orang-orang yang dihormati dan dikipasi bukan lagi mereka yang berdarah biru, melainkan para ulama, guru agama, tokoh masyarakat, hingga setiap tamu yang melangkahkan kaki ke Banua Lawas.
Dalam satu talam besar yang berisi nasi, olahan ayam, itik, serta ikan panggang, empat hingga enam orang duduk melingkar tanpa sekat sosial. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah; semua berbagi hidangan yang sama dalam satu wadah.
Menjaga Identitas Banua
Pencapaian ini menjadi kebanggaan kolektif yang disambut hangat oleh Pemkab Tabalong. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong, Gt. Judid Permana, mengungkapkan rasa terima kasih mendalam kepada pemerintah pusat atas pengakuan WBTb ini.
Menurutnya, penetapan ini adalah buah dari ketangguhan masyarakat yang tanpa lelah merawat kearifan lokal selama lebih dari satu abad.
Langkah pelestarian ini dipastikan tidak akan berhenti di sini. Pada tahun 2027 mendatang, Pemkab Tabalong telah bersiap mengusulkan kekayaan budaya lainnya seperti Paliat, Tawas Ja’a, dan Mongket Manau untuk meraih status warisan budaya nasional.
Melalui Makan Batalam, Tabalong membuktikan kepada dunia bahwa tradisi leluhur mampu melintasi zaman tanpa kehilangan pijakan moralnya. Bukan pangkat atau jelata yang dirayakan di atas talam, melainkan adab, silaturahmi, dan rasa syukur yang abadi. (Red)

































































