Oleh: Kadarisman, Praktisi hipnoterapi pada Hipnoclinic Tabalong, Trainer Spiritual Emosional Freedom Teqnique (SEFT)
Lini masa media sosial kita belakangan ini kerap menyuguhkan panggung yang kian mirip koloseum Romawi: bising, riuh, dan haus penghakiman.
Di Kalimantan Tengah (Kalteng) misalnya, seorang perempuan, seorang ibu yang kebetulan suaminya adalah seorang gubernur setempat menjadi sasaran yang usil. Hati Aisyah Thisia sedang diremuk redam oleh berbagai flaming dan trolling di media sosial, bukti betapa cepatnya ruang digital berubah menjadi arena pengadilan massal.
Kisah tak jelas yang diklaim dari penggalan masa lalu antah berantah dibumbui tuduhan bertahtakan kebencian, hingga ranah privat yang dikulik-kulik tanpa peduli nilai fakta dan kebenarannya sedang menyasar Aisyah Thisia. Keadaan tersebut sungguh menguji mental sekaligus moral dia sebagai seorang perempuan.
Di tengah badai perundungan itu mental perempuan mana yang tak terusik jika ia berada di pihak yang dituduhkan. Namun, mental harus tetap dinavigasi agar tetap tangguh di tengah badai perundungan digital bagi siapa pun yang mengalami hal serupa. Moral pun harus tetap dijaga agar korban tidak terseret pada wujud serupa yang penuh kemurkaan.
Mengapa publik digital begitu gemar menghakimi?
Secara psikologis, Carl Jung menyebut fenomena ini sebagai proyeksi shadow (bayangan), bagian gelap, ambisi, atau dorongan tersembunyi yang ditolak oleh diri sendiri. Saat melihat orang lain yang dinilai mewujudkan ambisi atau status materi tertentu, publik memproyeksikan rasa iri dan bersalahnya dengan cara menyerang. Merundung menjadi cara instan bagi pihak yang tak bertanggung jawab untuk merasa berdiri di panggung moral yang lebih tinggi.
Psikiater M. Scott Peck mengaitkan kondisi ini dengan meluruhnya empati akibat fenomena deindividuasi. Di balik layar gawai, identitas personal melebur ke dalam massa anonim. Ketika rasa tanggung jawab pribadi luntur dan empati musnah, tindakan mempermalukan sesama manusia mendadak terasa sah demi pemuasan emosi sesaat.
Bagi siapa pun yang terseret ke dalam pusaran perundungan massal, filsafat Stoikisme menawarkan kompas navigasi yang kokoh melalui dikotomi kendali.
Epictetus, misalnya, menegaskan bahwa persepsi, rumor, dan cibiran warganet berada sepenuhnya di luar kendali kita. Yang berada di bawah kendali penuh hanyalah respons, sudut pandang, dan kedamaian pikiran kita sendiri. Menambatkan harga diri pada jempol dan komentar warganet adalah bentuk kesengajaan menuju kehancuran mental.
Perspektif eksistensial Viktor Frankl lewat Logotherapy mengingatkan bahwa manusia selalu memiliki kebebasan terakhir: memilih sikap saat menghadapi penderitaan. Badai perundungan dapat ditransformasi menjadi proses pematangan spiritual, pembuktian ketangguhan jiwa, sekaligus penyaring alami untuk melihat siapa yang benar-benar tulus mendampingi di garis terdekat.
Pakar psikoterapi Milton Erickson mengenalkan teknik reframing, mengubah bingkai cerita. Narasi masa lalu yang tak jelas faktanya yang diungkit warganet tidak perlu diterima sebagai vonis mati pada karakter, melainkan imajinasi kebencian yang tidak perlu dipikirkan kapan ia akan usai. Alih-alih menyerahkan kebahagiaan pada apa kata warganet, alokasi energi mental jauh lebih baik dipindahkan sepenuhnya pada integritas, peran sosial, dan karya nyata hari ini.
Peristiwa ini sejatinya adalah ujian sekaligus cermin bagi kedewasaan kita berinteraksi di era digital. Kita harus mampu membedakan secara tegas antara substansi suatu persoalan dengan penggiringan opini publik yang bertunggangkan syahwat benci. Menguliti ranah personal seseorang demi kepuasan voyeuristik adalah bentuk kebangkrutan etika digital.
Badai di media sosial mungkin akan selalu datang dan pergi dengan target yang berganti-ganti. Namun, dengan memahami navigasi mental yang tepat dan terus mengasah empati, kita tidak hanya menyelamatkan kesehatan jiwa sendiri dari racun digital, tetapi juga bertransformasi menjadi masyarakat yang jauh lebih bijak, beradab, dan bermartabat di ruang siber.
Kita tak selalu dapat mengendalikan apa-apa yang di luar diri kita, namun kita memiliki ruang yang lapang untuk mengendalikan diri sendiri.
Kehidupan selalu memberi ruang bahwa harapan tidak selalu sesuai dengan keinginan. Maka ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan, terimalah apa yang terjadi, bukan untuk membenarkan satu tuduhan tetapi begitulah cara para filsuf Stoik menjaga kendali mental mereka tetap tenang dan terhindar dari jebakan kebencian.
Balas dengan Cinta
Sadarilah bahwa kebencian kerap membuat kita tidak adil terhadap orang lain. Dalam psikologi sosial ada teori dasar yang menjelaskan kesalahan fundamental kebanyakan orang, yaitu cenderung tidak adil dalam memberikan penilaian. Bahasa Profesor Lee Ross, seorang psikolog dari Stanford University, menyebutnya sebagai Fundamental Attribution Error.
Kita dapat memilih untuk tidak menjadi bagian attribution error, tetapi dapat memilih attribution angel, yakni sebagai seorang yang melatih diri untuk berhati seluas samudera, seorang pribadi yang siap yang tidak menanam apa pun kecuali cinta dan kebaikan.
Pada satu ketika, seorang Sufi perempuan bernama Rabiatul Adawiyah ditanya oleh seseorang; apakah dia benar-benar mencintai Allah? Dia menjawab; “Ya.”
Beliau ditanya lagi, kalau begitu apakah anda membenci iblis? Dia menjawab; “Cintaku pada Tuhanku tidak menyisakan ruang batin untuk membenci siapa pun, bahkan iblis sekali pun, apalagi kepada manusia.”
Kebencian selalu mengharapkan orang yang ditarget bersikap reaktif. Sebab respon yang reaktif kerap menggiring seseorang kepada kesalahan yang lebih nyata. Namun bagi seseorang yang mampu mengubah makna dari suatu kejadian getir, ia justru sedang diuntungkan. Ingatlah janji Tuhan dalam QS. Al-Kautsar [108]: 3, “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”
Kita tak dapat dan tak perlu mengusir gelap malam yang datang, cukup kita hadir dengan membawa cahaya, gelap akan menepi. Sambutlah setiap badai apa pun yang datang karena pasti Tuhan sedang menyisipkan pesan cinta Nya untuk kita yang tak pernah sempurna, sampai kita menemukan cinta itu sendiri. *

































































