Tanjung, kontrasx.com – Gema takbir mungkin telah meluruh seiring berakhirnya 1 Syawal, namun bagi masyarakat Desa Simpung Layung, Kecamatan Muara Uya, kemenangan yang sesungguhnya baru saja mencapai puncaknya. Tepat satu minggu setelah Idulfitri, aroma janur rebus dan gurihnya opor ayam kembali menyeruak, menandai dimulainya Lebaran Ketupat.
Bagi masyarakat Jawa di desa ini, Lebaran Ketupat bukan sekadar ritual dapur. Ia adalah “gong” penutup yang sakral, sebuah jembatan spiritual yang menghubungkan rasa syukur setelah puasa sunnah Syawal dengan eratnya tali silaturahmi antarwarga.
Sabtu pagi itu, suasana di RT.10 Desa Simpung Layung tampak lebih hidup. Sejak fajar, para ibu sibuk mengisi selongsong janur dengan beras pilihan, sementara para bapak menyiapkan perhelatan di Mushala Al Muttaqin.
Satu per satu warga datang membawa baki berisi ketupat, sayur lodeh, hingga sambal goreng. Di dalam mushala, tidak ada kursi kehormatan atau sekat status sosial. Semua duduk bersila, melingkar dalam kesetaraan yang hangat. Doa selamat dilantunkan dengan khidmat oleh tokoh agama setempat, memohon keberkahan rezeki dan kerukunan yang abadi bagi seluruh desa.
“Ini sudah dari dulu, warisan orang tua bahkan kakek nenek kami,” ujar Mugo Bejo, salah satu warga setempat dengan mata berbinar.
“Warga membawa masakan ke langgar, lalu kita doa bersama dan makan bersama. Tujuannya sederhana: bersyukur dan menjaga kebersamaan.” ujarnya lagi.
Filosofi “Ngaku Lepat”
Secara historis dan filosofis, ketupat memang bukan sekadar pengganti nasi. Dalam tradisi Jawa, ketupat identik dengan istilah “Ngaku Lepat” (mengakui kesalahan) dan “Laku Papat” (empat tindakan: lebaran, luburan, leburan, dan laburan).
Anyaman janur yang rumit dan saling tumpang tindih melambangkan carut-marut kesalahan manusia. Namun, ketika ketupat dibelah, terlihatlah bagian dalam yang putih bersih, simbol hati yang kembali fitrah setelah saling memaafkan.
Di tengah gempuran gaya hidup modern yang cenderung individualis, pemandangan di Simpung Layung ini menjadi oase yang menyejukkan. Tradisi ini membuktikan bahwa gotong royong belum punah; ia hanya butuh wadah untuk tetap bernapas.
Usai doa bersama, suasana berubah menjadi riuh rendah dengan tawa. Obrolan ringan mengalir, menyatukan kembali hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan sehari-hari. Di atas hamparan karpet mushala, mereka tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi kehidupan.
Lebaran Ketupat di Desa Simpung Layung adalah bukti nyata bahwa budaya lokal memiliki kekuatan magis untuk menyatukan. Ia adalah jembatan yang kokoh, menghubungkan nilai-nilai luhur masa lalu dengan harapan cerah di masa depan. Selama janur masih teranyam, selama itu pula rasa persaudaraan di desa ini akan terus terjaga. (sem)
































































