Tanjung, kontrasx.com – Berawal dari adu mulut di layar ponsel, urusan dua remaja perempuan di Tabalong ini nyaris berbuntut panjang. Hanya karena saling ejek melalui pesan singkat WhatsApp, dua orang ibu di Kecamatan Tanta dan Murung Pudak terpaksa harus duduk bersama di kantor polisi untuk menyelesaikan “drama” yang bermula dari jempol sang anak.
Kejadian ini bermula pada Sabtu (02/05) siang. Dua remaja yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP terlibat perselisihan sengit di aplikasi pesan hijau tersebut. Kata-kata ejekan yang dilempar membuat salah satu remaja merasa sakit hati dan mengadu kepada ibunya, LPS (36), warga Kelurahan Mabuun.
Bak api yang tersulut, LPS yang tak terima buah hatinya dihina langsung meluncur menuju kediaman HER (38), ibu dari teman anaknya yang berlokasi di Desa Tanta Hulu. Bukannya dialog dingin, suasana justru memanas. LPS yang telanjur emosi meluapkan amarahnya di rumah HER hingga menciptakan kegaduhan yang mengundang perhatian warga sekitar.
Merasa harga dirinya terinjak dan tak terima diamuk di rumah sendiri, HER pun mengambil langkah hukum dengan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tanta.
Menyikapi laporan tersebut, pihak kepolisian bergerak cepat agar konflik antar tetangga kecamatan ini tidak meruncing. Pada Minggu (03/05) siang, Kapolsek Tanta IPDA Aris Sufariyadi, S.H., M.H., memanggil kedua belah pihak untuk duduk satu meja.
Kapolres Tabalong AKBP Wahyu Ismoyo, S.I.K., M.H., M.Tr.Opsla., melalui Kasi Humas Iptu Heri Siswoyo, S.H., M.H., membenarkan bahwa insiden tersebut murni dipicu oleh interaksi digital anak-anak mereka.
“Setelah dilakukan mediasi dan diberikan penjelasan secara mendalam, kedua belah pihak akhirnya menyadari kekhilafan mereka. Mereka sepakat berdamai secara kekeluargaan dan saling memaafkan,” ujar Iptu Heri.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua di era digital. Di akhir mediasi, IPDA Aris memberikan pesan menyentuh sekaligus tegas kepada LPS dan HER agar kejadian serupa tak terulang.
Kini, layar WhatsApp yang sempat panas itu telah mendingin. Kedua ibu tersebut pulang dengan janji untuk lebih bijak mengawasi buah hati mereka, agar jempol sang anak tak lagi menyeret orang tua ke ranah hukum.(Rel)





























































