TANJUNG, kontrasx.com – Terkait temuan solar di tangki penampungan SPBU Mantuil sebanyak 8.000 liter dan plang bertuliskan “solar dalam pengiriman, pengusaha sekaligus pemilik depo BBM tersebut, H Marlan, memberikan klarifikasi.
H Marlan menuturkan BBM tersebut datang saat malam hari, baik pengawas maupun admin SPBU tidak tahu.
“Pengawas maupun admin tidak tahu krn RTG-nya rusak, angkanya nol begitu dilihat. Anak-anak tidak tahu kalau minyak datang” jelasnya, Selasa (26/5).
Pengusaha ini mengatakan biasanya BBM baru datang satu atau dua hari setelah penjualan.
“Jadwalnya itu sehari sebelumnya sudah di jual. Biasanya BBM baru datang setelah satu atau dua hari setelah penjualan” ujarnya.
Menurutnya, pada hari Kamis tersebut, pengawas SPBU tidak ada di tempat karena sedang ke kebun dan siang hari baru pulang.
“Untuk menjual ini pengawas sudah terlanjur ke kebun. Rencananya setelah balik baru dibuka (dijual) karena bbm-nya hanya 8.000 liter. Seperti itu keadaannya” jelasnya.
H Marlan menegaskan adanya solar di tangki SPBU bukan untuk menumpuk atau menimbun.
“Kalau dikatakan menumpuk tidak ada, kalau di SPBU itu namanya stok. Yang namanya menumpuk itu, misalnya ada orang membeli bbm di SPBU lalu dibawa ke rumah, itu namanya menumpuk” jelasnya.
“Kalau minyak di tumpuk itu mengalami penyusutan, menguap. Kita tidak ada niatan sama sekali untuk menumpuk” timpalnya.
Ia menyatakan keterlambatan penjualan BBM karena faktor tertentu tidak dipermasalahlan oleh pihak PT Pertamina.
“Misalnya (di hari tersebut) kondisi tidak memungkinkan, misalnya tidak aman, bisa saja di jual besok, pihak Pertamina tidak membatasi” katanya. Kalau operator merasa pengawas tidak ada, satpam tidak ada, boleh saja (tidak langsung berjualan)” bebernya.
Dirinya pun mengaku untuk sementara waktu masih belum berani untuk menebus solar (dari pihak Pertamina Patra Niaga) dan dijual kembali di SPBU.
“Kita belum berani menebus, nanti dikatakan menumpuk lagi, soalnya kita lambat jualan dikatakan numpuk” dalihnya.
Akibat kejadian tersebut, H Marlan mengaku karyawannya mengalami trauma karena mereka diperiksa oleh kepolisian hingga tengah malam.
“Operator tidak sanggup jual solar, trauma, diperiksa sampai tengah malam” imbuhnya.
Disinggung kapan SPBU-nya akan menjual solar lagi, ia belum bisa memastikan.
“Semenjak kejadian kita tidak nebus dulu. Anak-anak juga belum sanggup. Kita menunggu suasana kondusif dulu” katanya.
Soal plang bertuliskan “solar dalam pengiriman”
Terkait plang tersebut, H Marlan menjelaskan
karyawan tidak sempat memindahkan, selain itu bbm jenis pertalite hari di hari tersebut juga memang dalam perjalanan.
“Masalah plang memang tidak sempat memindah. BBM jenis pertalite memang dalam perjalanan saat itu. Seolah-olah itu sama saja, tidak terpikir bahwa ini akan berdampak. Tidak ada unsur kesengajaan. Manusiawi saja kalau ada kelengahan” pungkasnya. (Boel)
































































