Oleh: Erlina Effendi Ilas (Ketua Komunitas Sayangi Sesama Tabalong)
Khatib Dayan nang jadi talabang
Urang nang baisi kapintaran
Rakat mupakat wan saijaan
Pangeran mangumpul pasukan…
Penggalan lirik lagu yang diciptakan budayawan Banjar, Anang Ardiansyah itu masyhur di Kalimantan. Lirik lagu yang singkat itu seolah memuat sejarah panjang Kerajaan Banjar yang dimulai dari Daha hingga berdirinya Kerajaan Banjar di Kuin, Banjarmasin.
Seteru paman dan kemanakan antara Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung memuncak di Sungai Kuin. Khatib Dayan yang merupakan utusan perbantuan dari Demak, saling bahu-membahu bersama Patih Masih memenangkan pertempuran. Pangeran Samudera kemudian bertahta yang dikenal sebagai Pangeran Suriansyah.
Khatib Dayan tidak saja seorang talabang, perisai, petinggi kerajaan, namun juga seorang ulama yang memiliki nasab keturunan ke Sunan Gunung Jati. Dia tidak saja mengislamkan Raja Banjar, Pangeran Suriansyah dan rakyatnya, namun syiarnya sampai ke kampung Banua Lawas di Kabupaten Tabalong.
Banua Lawas menegaskan sebagai kampung bahari yang terkait erat dengan budaya Kerajaan berkat syiar dan kehadiran Khatib Dayan dalam menyebarkan Islam. Kehadiran Khatib Dayan di Banua Lawas menciptakan akulturasi dalam budaya setempat. Akulturasi itu hingga kini masih meninggalkan jejak dan terjaga terutama ketika perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan refleksi kegembiraan sebab di bulan itulah lahir seorang mulia Rasulullah SAW. Refleksi itu kemudian menjadi budaya dalam masyarakat Islam di Kalimantan Selatan khususnya untuk menguatkan ukhuwah islamiah dan kekerabatan, saling menjamu dan memberi makan saudaranya yang datang bertandang.
Di Banua Lawas budaya maulid memiliki keunikan tersendiri. Percampuran budaya Islam, budaya lokal, dan budaya kerajaan terakulturasi menjadi budaya baru tanpa menghilangkan jejak keaslian budaya terdahulu.
Maulid makan batalam dan bakipas pangeran hadir sebagai sebuah keunikan budaya yang bisa melengkapi khasanah kekayaan kita sebagai bangsa.
Makan batalam dan bakipas pangeran sebuah filosofi moral betapa pentingnya memuliakan tamu. Jika makan batalam sebuah jamuan, maka bakipas pangeran sebuah sambutan penghormatan, bahwa tamu yang datang penting untuk diperlakukan dengan penuh penghormatan serta hidangan terbaik sebagai bentuk memuliakan.
Khatib Dayan, yang memiliki nama asli Sayyid Abdurrahman masuk ke Banua Lawas dengan karpet merah dan tangan terbuka.
Kehadirannya menumbuhkan cahaya ilmu, optimisme, dan keberanian melawan segala bentuk kebatilan. Cara masyarakat Banua Lawas menyambutnya dengan penuh penghormatan kepadanya ketika itu jelas bukan bentuk feodalisme, tapi sebagai bentuk hadirnya tatanan moralitas.
Feodalisme yang kemudian datang belakangan membawa sikap yang bertentangan, bukan sebagai tamu tetapi sebagai pihak yang memaksakan kehendaknya.
Feodalisme itu sejatinya adalah ketika kita menutup mata melihat setitik hitam di selembar kertas warna putih. Sikap mendahulukan sangkaan buruk atas sesuatu yang tidak diniatkan untuk diverifikasi adalah bentuk feodal.
Esensinya, feodalisme adalah memaksakan perspektif dan sudut pandangnya sebagai narasi yang seolah paling benar, itulah feodalisme yang sebenarnya.
Jadi, setiap reaksi yang lahir dari kebencian atau tanggapan buruk atas sesuatu yang tidak didahului niat menguji kebenarannya adalah sebenar-benarnya feodal.
Menempatkan narasi feodalisme pada nilai kebudayaan adalah sebuah tuduhan tendensius yang lahir dari sempitnya hati dan pikiran. Kesempitan dua hal itu membutakan mata untuk melihat realitas substansi yang sebenarnya.
































































