Bagaimana jika rahasia keuangan sehat bukan soal menghasilkan lebih banyak uang, melainkan membangun hubungan baru dengan konsumsi?
Sebuah pola pikir di mana kamu memilih dengan sadar, bukan sekadar bereaksi terhadap iklan yang muncul di layar ponsel.
Dilansir dari JawaPos.com Generasi sekarang mungkin tak ragu membuang lemari yang masih tampak kokoh. Pemandangan itu mengingatkan pada generasi orang tua: mereka hidup di masa ketika membuang barang yang masih bisa dipakai terasa seperti dosa kecil.
Setiap toples disimpan, setiap makanan direncanakan, dan membeli barang baru hanya terjadi jika yang lama benar-benar tidak bisa diselamatkan.
Maju cepat ke hari ini, di era pengiriman instan dan produk yang sengaja dibuat cepat rusak semakin sedikit orang merasa aman secara finansial.
Tapi mungkin, solusi tidak terletak pada aplikasi budgeting terbaru, melainkan dalam kebiasaan sederhana yang pernah begitu alami di masa lalu.
Berikut lima kebiasaan hemat dari era 1970-an yang layak dihidupkan kembali, seperti dilansir dari VegOut.
1. Menanam Makanan Sendiri (Bahkan di Lahan Mini)
Dulu, halaman belakang dengan kebun sayur kecil adalah hal biasa. Bahkan selama Perang Dunia II, “Victory Gardens” menyumbang sekitar 40 persen dari semua sayuran yang dikonsumsi di AS.
Tentu, tidak semua orang punya halaman luas, tapi tanaman herbal di ambang jendela atau tomat dalam pot bisa sangat membantu. Bukan hanya menekan pengeluaran, tapi juga mengubah cara pandang terhadap makanan.
Membudidayakan makanan sendiri membuat seseorang lebih menghargai prosesnya. Bahkan dua pot kecil berisi kemangi dan mint bisa menghemat ratusan ribu rupiah per tahun.
Belum lagi kepuasannya—tidak ada yang mengalahkan rasa salad dari daun yang kamu tanam sendiri.
2. Memperbaiki, Bukan Langsung Mengganti
Generasi sebelumnya terbiasa memperbaiki barang sebelum berpikir untuk membeli yang baru. Ketika pemanggang roti rusak, mereka ganti kabelnya. Ketika tuasnya lengket, mereka bersihkan mekanismenya.
Sekarang? Layar ponsel retak sedikit—langsung beli baru. Celana jeans sobek—waktunya belanja.
Padahal banyak perbaikan itu jauh lebih mudah daripada yang dibayangkan. Cukup cari video tutorial, ambil obeng, dan sisihkan sedikit waktu.
Bonusnya, kamu juga mulai memandang barang-barang dengan cara berbeda—lebih menghargai, lebih bijak.
3. Merencanakan Makanan dan Memasak dari Awal
Berapa kali kamu berdiri di depan kulkas pukul 6 sore, bengong, lalu ujung-ujungnya pesan makanan?
Pada era 1970-an, perencanaan makanan adalah rutinitas, bukan tren. Orang-orang mengatur menu mingguan, membuat daftar belanja, dan memasak dari awal. Itu bukan hal luar biasa—itu gaya hidup biasa.
Kini, mulai merencanakan makan bisa terasa seperti PR. Tapi begitu terbiasa, keuntungannya jelas: pengeluaran makanan jadi jauh lebih terkontrol, bahan tidak terbuang, dan memasak terasa lebih menyenangkan, bukan beban.
Mulailah dari yang simpel. Pilih tiga resep favorit, rencanakan satu minggu ke depan, dan perlahan-lahan kembangkan kebiasaan ini. Selain hemat, kamu juga tahu persis apa yang masuk ke dalam tubuh.
4. Menabung Secara Konsisten dari Setiap Gaji
Pada masa lalu, menabung 10–20% dari pendapatan bukanlah saran dari influencer finansial—itu hanya hal yang dilakukan orang dewasa.
Hari ini, kebanyakan orang hidup dari gaji ke gaji. Uang masuk, lalu dibelanjakan, dan baru menabung kalau ada sisa. Masalahnya: sering kali tidak ada yang tersisa.
Kebiasaan masa lalu justru sebaliknya: sisihkan tabungan lebih dulu, baru gunakan sisanya untuk kebutuhan. Kuncinya adalah membuatnya otomatis. Atur transfer tetap ke tabungan setiap bulan—bahkan 5% pun jauh lebih baik daripada nol.
Ketika tabungan jadi prioritas, pengeluaran otomatis jadi lebih selektif. Bukan karena merasa kekurangan, tapi karena lebih sadar mana yang benar-benar penting.
5. Membeli Barang Berkualitas yang Tahan Lama
Dulu, orang menabung untuk membeli barang yang awet. Mantel musim dingin bagus bisa dipakai hingga dua dekade. Filosofinya sederhana: beli sekali, pakai lama.
Sekarang, model keusangan terencana membuat kita terbiasa membeli murah dan sering—padahal seringkali justru lebih boros.
Sepatu bot seharga Rp300 ribu yang rusak dalam 8 bulan, dalam dua tahun bisa habis tiga pasang. Bandingkan dengan satu pasang seharga Rp1 juta yang awet lima tahun lebih.
Triknya: ubah cara pandang dari “harga per barang” menjadi “biaya per penggunaan”. Beli dengan niat tahan lama. Tidak harus mahal, tapi harus berkualitas.
Lima kebiasaan dari tahun 1970-an ini bukan sekadar tentang menghemat uang tapi tentang menciptakan gaya hidup yang lebih sadar, lebih menghargai, dan lebih stabil.
Mungkin masa lalu tidak sempurna, tapi ada kebijaksanaan yang patut kita bawa kembali. Karena terkadang, langkah maju yang paling bijak justru dimulai dengan sedikit mundur ke belakang.































































