TANJUNG, kontrasx.com – Terkait persoalan air sungai Jaing yang warnanya berubah jadi coklat kehitaman, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabalong angkat bicara.
Kepala DLH Tabalong, Erfin Nirza Siregar mengatakan dari persoalan ini yang paling utama sebagaimana pengertian dari pencemaran adalah manusia yang terdampak.
“Kontigensi plan-nya adalah bagaimana mengatasi ketergangguan yang utamanya terjadi pada manusia, dalam hal ini adalah masyarakat yang terdampak” jelasnya pada kontrasx.com, Kamis (12/3) diruang kerjanya.
Erfin menyatakan pihaknya sudah melakukan pemenuhan air baku pada masyarakat desa Masukau yang terdampak.
“Sudah kita salurkan” imbuhnya.
Soal pengawasan, ia menerangkan sesuai Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2005, kewenangan untuk melakukan pengawasan ada di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
“Kewenangan melakukan pengawasan sebenarnya ada di KLH, tapi kita tidak bisa berdiam diri. Kami pun sudah coba menelusuri sumber penyebab ketergangguan” bebernya.
Erfin mengaku hingga kini pihaknya masih dalam proses mencari sumber “masalah” yang menimpa sungai Jaing.
“Sampai saat ini (DLH) masih lakukan penelusuran, dimana sumber itu, sampai saat ini belum kami dapati sumbernya” katanya.
Diberitakan sebelumnya kondisi sungai Jaing mengalami “masalah” dimana warna airnya berubah jadi coklat kehitaman.
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, menurut warga Desa Masukau kejadian ini sudah terjadi berkali-kali.
Dampaknya, warga tidak berani memanfaatkan air sungai, pengelola Pamsimas menghentikan proses penyedotan air untuk masyarakat.
Bahkan jika kondisi ini terus berlangsung, keberadaan objek wisata andalan warga Masukau juga terancam tutup. (Boel)































































