Tanjung, kontrasx.com — Di tengah kepungan media sosial dan gim daring yang mendominasi keseharian anak-anak, sebuah gerakan pelestarian budaya yang masif tengah berlangsung di SDN 6 Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Sekolah dasar ini membuktikan bahwa bahasa daerah tidak harus kalah bersaing dengan modernisasi.
Melalui program inovatif KABAR KITA (Kamus Bahasa Banjar Milik Kita), SDN 6 Tanjung sukses menyulap lingkungan sekolah menjadi ruang belajar bahasa Banjar yang interaktif, menyenangkan, dan digerakkan langsung oleh para siswa.
Lahirnya KABAR KITA dipicu oleh kecemasan terhadap fenomena kebahasaan di kalangan generasi alfa (digital natives). Paparan konten digital berbahasa asing dan bahasa Indonesia populer, ditambah kecenderungan keluarga milenial meninggalkan bahasa daerah di rumah, membuat bahasa Banjar kian asing bagi anak-anak. Pergeseran ini mengancam keberlangsungan bahasa ibu sebagai fondasi identitas lokal daerah. Di sisi lain, pembelajaran Muatan Lokal (Mulok) konvensional kerap menjemuhkan karena terpaku pada hafalan teoretis di kelas.
“Kami mendobrak pola satu arah itu. Lewat KABAR KITA, kami menggeser peran siswa dari objek pasif menjadi subjek aktif—yaitu detektif bahasa sekaligus kontributor budaya mereka sendiri,” ujar Fathul Jannah, S Pd, M.A, inovator program KABAR KITA.
Inovasi ini mengusung metode sederhana namun berdampak tinggi (low-cost, high-impact). KABAR KITA memanfaatkan ruang mading strategis sekolah sebagai “Kamus Hidup” (Living Dictionary) yang diperbarui secara bergantian oleh regu piket kelas setiap minggu melalui empat tahap: eksplorasi kata ke keluarga atau tokoh masyarakat, verifikasi ketepatan arti oleh guru koordinator, kreasi visual pada kertas warna-warni A5 lengkap dengan contoh kalimat, dan publikasi di mading setiap Sabtu. Metode ini menciptakan paparan visual berkelanjutan (continuous passive exposure). Tanpa paksaan menghafal, siswa belajar secara tidak sadar (unconscious learning) hanya dengan berjalan melewati koridor sekolah setiap hari.
Kehadiran program ini membawa lompatan besar bagi ekosistem sekolah. Pembelajaran muatan lokal yang dulunya kaku dan teoretis kini berubah menjadi dinamis, kontekstual, dan aplikatif. Lingkungan sekolah yang semula “senyap” dari aksara daerah kini bertransformasi menjadi ruang kaya visual yang dipenuhi kosakata Banjar. Lebih dari itu, program ini berhasil mengubah mentalitas siswa. Dari yang awalnya pasif menerima hafalan serta merasa malu menggunakan bahasa daerah, kini mereka tumbuh menjadi subjek aktif yang bangga memamerkan temuan kosakata uniknya, sekaligus menghapus rasa minder dalam berbahasa Banjar di sekolah.
Satu tahun berjalan, evaluasi program mencatatkan hasil gemilang dengan pencapaian target 100 persen pada seluruh indikator keberhasilan. Pertama, program ini berhasil melampaui target minimal 40 kosakata per tahun dengan menyajikan ratusan istilah unik bahasa Banjar. Kedua, konsistensi publikasi terjaga sempurna tanpa ada satu minggu pun mading dibiarkan kosong. Ketiga, keterlibatan peserta mencapai 100 persen karena seluruh kelas aktif menjalankan tugas piketnya secara bergiliran. (Rel)
































































