Tanjung, kontrasx.com – Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak luas, dari industri besar hingga UMKM dan konsumen. Plastik yang menjadi bahan utama berbagai produk membuat kenaikan ini langsung mempengaruhi biaya produksi dan harga jual di pasar.
Dikutip dari Bisnis Indonesia salah satu penyebab harga plastik naik berasal dari gejolak energi global yang mendorong kenaikan harga bahan baku petrokimia serta gangguan distribusi pasokan. Kondisi ini membuat tekanan biaya semakin besar di seluruh rantai industri. Mari kita simak penyebab dan dampaknya.
Plastik sebenarnya bukan bahan yang “berdiri sendiri”. Ia berasal dari proses panjang industri petrokimia yang berbasis minyak bumi. Minyak mentah diolah menjadi nafta, lalu diproses lagi menjadi senyawa dasar seperti etilena dan propilena.
Dari sinilah berbagai jenis plastik dibuat, mulai dari polyethylene (PE), polypropylene (PP), hingga polystyrene (PS)
Inilah alasan kenapa harga plastik sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak dan kondisi energi global. Saat harga minyak naik atau distribusi terganggu, biaya produksi langsung plastik ikut terdorong naik.
Salah satu penyebab utama harga plastik naik adalah konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak. Gangguan ini mendorong kenaikan harga minyak, yang otomatis menaikkan biaya bahan baku petrokimia seperti nafta.
Dampaknya langsung terasa pada produksi plastik. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut, dengan sekitar 70 persen bahan baku berasal dari Timur Tengah. Inilah yang membuat kenaikan harga plastik semakin sulit dihindari.
Harga plastik di Indonesia dilaporkan naik drastis antara 40% hingga 100% per April 2026. Kondisi ini mulai memicu keluhan dari pedagang kecil hingga pelaku UMKM karena langsung menekan biaya operasional.
Beberapa rincian kenaikan di lapangan menunjukkan lonjakan yang cukup signifikan. Harga plastik kresek naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per pak. Plastik ukuran jumbo bahkan melonjak dari Rp25.000 menjadi Rp50.000 per pak.
Sementara itu, plastik anti panas mengalami kenaikan lebih tajam, dari Rp40.000 menjadi Rp65.000 per kilogram. Kenaikan ini memperkuat tekanan biaya, terutama bagi usaha makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Bagi UMKM, dampaknya paling cepat terasa. Usaha makanan dan minuman yang bergantung pada kemasan plastik harus menghadapi kenaikan biaya operasional. Margin keuntungan pun ikut tertekan, bahkan sebagian pelaku usaha terpaksa menaikkan harga atau mengurangi kualitas kemasan.
Dampak kenaikan harga plastik tidak terkecuai dirasakan para pedagang di Tabalong yang kebanyakan memakainya sebagai bahan kemasan.
Seperti pengrajin Tempe, mereka merasakan dampak karena kenaikan harga plastic, Yogie misalnya pengrajin tempe merek Higuni ini tetap memilih tidak menaikan harga produknya.
“Otomatis mengurangi marjin keuntungan kita, tapi mau gimana lagi kalua harga produknya yang kita naikan kasihan juga pelanggan” ujarnya di Tanjung.
Demikian juga pedagang lain yang memilih tidak menaikan produknya tapi bertahan dengan mengurangi keuntungan.
Sementara bagi konsumen, dampaknya muncul secara perlahan. Harga produk di pasaran mulai ikut naik karena biaya kemasan meningkat. Jika kondisi ini terus berlanjut, daya beli masyarakat bisa ikut terpengaruh. (red)






























































