Tanjung, kontrasx.com – Penyakit Tidak Menular (PTM), khususnya hipertensi atau tekanan darah tinggi, kini tidak lagi didominasi oleh kaum lansia.
Fenomena ini diungkapkan oleh Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular Bidang P2 Dinas Kesehatan Tabalong, dr. Helidina Sofia, MM, pada Rabu (17/6) saat acara Bunga Desa di Padangin.
Menurutnya, saat ini masyarakat usia produktif, bahkan anak-anak berusia 12 tahun, sudah ada yang terdiagnosis mengidap hipertensi dan kencing manis (diabetes melitus).
dr. Helidina menjelaskan bahwa lonjakan kasus hipertensi pada usia muda ini sangat dipengaruhi oleh perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat saat ini.
“Pola Makan Instan, tingginya konsumsi makanan cepat saji (fast food) dan makanan instan. Maraknya konsumsi minuman manis yang mengandung kadar gula tinggi” bebernya.
Kurang Aktivitas Fisik juga mempengaruhi lonjakan kasus hipdertensi pada anak muda.
”Hipertensi sering disebut silent killer karena salah satunya tidak bergejala. Banyak orang merasa dirinya sehat-sehat saja, namun saat diperiksa, tensinya ternyata tinggi,” ujar dr. Helidina.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi angka darah tinggi di Kabupaten Tabalong menunjukkan dinamika yang perlu dikawal ketat.
Tahun 2018 (Riskesdas/SKI) Tabalong berada di peringkat nomor 2 tertinggi untuk prevalensi darah tinggi se-nasional.
Tahun 2023 imbuhnya, angka prevalensi mengalami penurunan, namun kewaspadaan tidak boleh kendur.
Salah satu tantangan terbesar Dinas Kesehatan saat ini adalah mengubah pola pikir masyarakat yang takut berobat karena khawatir dengan biaya atau beban pikiran setelah tahu dirinya sakit.
“Pemerintah daerah sebenarnya telah memfasilitasi layanan cek kesehatan gratis yang bisa diakses di berbagai fasilitas kesehatan, seperti Posyandu SPM dan Puskesmas. Layanan ini bukan hanya untuk lansia, melainkan untuk seluruh masyarakat, minimal satu kali dalam setahun” jelas Helidina.
”Penyakit tidak menular ini mungkin tidak bisa dibilang sembuh total seperti penyakit menular, tetapi sangat bisa dikendalikan. Kuncinya adalah deteksi dini. Yang sehat tetap sehat, dan yang sudah sakit tidak jatuh ke kondisi komplikasi yang lebih parah,” pungkasnya. (Na)
































































