Oleh: Fitria Widnoarum, Mahasiswa Politeknik Hasnur
Bercermin dari tragedi benang layangan yang banyak memakan korban,
Banjarmasin saat ini seperti kota layangan.
Tapi benangnya bukan pengantar harapan.
Melainkan pembawa luka.
Di Jembatan HKSN, seorang anak tujuh tahun disambar benang tajam.
Mulutnya robek. Ibunya juga terkena,
hanya terselamatkan jilbab panjang yang ia kenakan. Radar Banjarmasin, (9 Juli 2025).
Tiga orang pengendara lain mengalami luka di leher dan pelipis sebagaimana dilansir InilahKalsel.com, (15 Juli 2025).
Benang itu bukan satu-satunya.
Di Kawasan yang berbeda peristiwa serupa yang saya alami , (9 Juli 2025)
Sore itu, Pal 1 yang mendadak bising.
Motor-motor berjejer, klakson menyalak, dan udara penuh rasa jengkel.
Bukan karena jalan rusak, bukan karena banjir.
Tapi karena satu hal yang tak disangka: layangan.
Seorang pemuda berdiri di tengah jalan raya, berlari mengejar benang yang lepas.
Layangannya tersangkut di udara.
Tak sadar, benang itu sudah membentang di depan muka.
Refleks, saya tutup kaca helm.
Tapi tetap saja motor saya oleng.
Hampir menabrak seseorang di depan.
Dan benang itu terus melilit, ikut terseret jauh.
Wali Kota turun tangan, aparat membubarkan,
memberantas pembebal layangan yang menjadikan jembatan sebagai lapangan.
Hari ini selasa 15 juli 2025 tidak hanya membaca berita.
Saya mendatangi titik rawan yang diberitakan. Dan jembatan itu kini berubah wajah.
Tak ada lagi suara sorak atau benang melayang di udara.
Jalanan tertib. Lalu lintas lancar.
Petugas Dishub berdiri diam tapi sigap mengawasi.
Tapi ingatan tentang luka masih tergantung di langit.
Saya bertanya dalam hati,
mungkinkah suara warga didengar?
Mungkinkah luka-luka itu menyentuh meja kebijakan?
Entah karena perintah langsung, atau tekanan sosial yang membanjiri komentar netizen,
tapi satu hal jelas:
Hari ini Jembatan HKSN lebih aman dari benang gelasan.
Bermain adalah kebebasan. Tapi menjaga keselamatan adalah tanggung jawab































































Bagus sekali tulisannya ☺