TANJUNG, kontrasx.com – Kelompok Tani yang mendapat bantuan sarana produksi dari Pemkab Tabalong melalui Disbunnak mengaku senang.
Perwakilan Kelompok Tani “Karya Bakti” Desa Bongkang Kecamatan Haruai, Syaripudin menyampaikan pihaknya mendapat bantuan mesin pencacah paya (pohon sagu) untuk ternak sapi.
Syarifudin menuturkan kelompoknya mendapat bantuan pertama tahun 2014 sebanyak 12 ekor.
“Sekarang sudah berkembang menjadi 50 an ekor” jelasnya pada kontrasx.com, beberapa waktu lalu.
Ia mengungkapkan upaya pemberian pakan paya yang kelompoknya lakukan untuk mempercepat penggemukan sapi yakni dengan menambah campuran dedak dan ampas tahu.
“Gemuknya lebih cepat. Kalau sebelumnya untuk mencacah paya kita manual, sekarang dibantu mesin, alhamdulillah” terangnya.
Dengan adanya mesin pencacah paya ini, pihaknya juga bisa mengurangi ketergantungan pada rumput.
“Terkadang saat kita sedang sibuk rumput habis. Dengan adanya mesin paya ini menyetok pakan lebih mudah, mengerjakannya juga tidak manual lagi” ujarnya sambil tersenyum.
Syarifudin juga mengaku pihaknya bersemangat untuk beternak sapi karena harga jualnya bagus.
Hal senada diungkapkan perwakilan Kelompok Tani “Inovasi Mandiri” Desa Pasar Batu Kecamatan Muara Uya, Syaifullah.
Syaifullah menuturkan kelompoknya mendapat bantuan pertama 25 ekor kambing.
“Awalnya 25 ekor kambing indukan, kemudian mati 3, tersisa 22 ekor. Sekarang jumlahnya 57 ekor” bebernya.
Pihaknya pun mengusulkan bantuan mesin pencacah paya untuk mengurangi ketergantungan pada rumput.
Di soal pakan, menurutnya akan ada kendala saat musim penghujan dimana rumput sedang basah.
“Kalau rumput diberikan saat basah bisa menimbulkann masalah pada kambing, perutnya bisa kembung. Adanya mesin ini bisa mengurangi ketergantungan pada pakan rumput” imbuhnya.
Syaifullah menceritakan, awalnya mereka mencoba memberi pakan paya pada ternaknya, ternyata di makan.
“Kita coba ternyata kambingnya mau makan paya. Lalu kita coba minta bantuan Pemda, akhirnya hari ini dapat” katanya dengan wajah berbinar.
Disisi lain ia menyebutkan saat ini pihaknya terkendala di pemasaran.
“Harga jualnya lagi turun, kami kesulitan memasarkan” keluhnya.
Ia pun berharap kelompoknya kedepan bisa mendapat bantuan mesin copper pencacah kotoran kambing dan pencacah rumput.
Sementara itu, perwakilan kelompok tani “Tunas Maju” Desa Jirak Kecamatan Pugaan, Malikul Qadri mengucapkan terima kasih pada Pemda karena kelompoknya mendapat bantuan mesin pencacah paya dan pencacah keong untuk ternak itik petelur.
“Ini untuk mengentengi biaya pakan. Dulu kami mencacah sagu secara manual. Ada alat ini bisa lebih enteng tenaga dan bisa mengentengi biaya” tukasnya.
Qadri menyebutkan kelompoknya tahun lalu mendapat bantuan 100 ekor itik petelur.
“Sudah satu tahun lebih dan perkembangannya bagus. Satu malam telurnya 60- 70 butir. Harga jual ke pengepul Rp 2.000 per butir. Terkadang kami jual ke luar (bukan ke pengepul) bila harganya lebih mahal” ujarnya.
“Telurnya tidak semua di jual, ada juga yang ditetaskan untuk menambah indukan” timpalnya.
Ia pun mengeluhkan harga pakan pabrikan yang dinilainya begitu mahal.
“Sekarang satu karung pakan harganya Rp 400.000. Kalau ada mesin bantuan ini biaya pakan bisa ditekan. Kalau harga pohon sagu di tempat kami Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu per pohon” imbuhnya.
Ia pun berharap ada solusi dari pemerintah agar harga telur itik bisa naik.
Qadri juga berharap kedepan ada lagi bantuan mesin pembuat pakan bama untuk kelompoknya. (Boel)






























































