TANJUNG, kontrasx.com – Warga Desa Masukau Kecamatan Murung Pudak kembali mengeluhkan kondisi sungai Jaing yang kuat dugaan mengalami pencemaran.
Perwakilan warga Masukau, Suwardi menuturkan saat ini kondisi air sungai Jaing berwarna coklat kehitaman.
“Warna airnya coklat kehitaman, seperti air comberan. Kejadian seperti ini sudah yang ketiga kalinya dalam satu bulan terakhir” bebernya pada kontrasx.com, Rabu (04/3) siang.
Wardi mengatakan kejadian ini sudah berlangsung sejak sore kemarin.
“Sudah sejak sore kemarin. Sudah yang ketiga kali. Pada hal kondisi air sedang surut, tidak ada curah hujan” ungkapnya.
Ia menerangkan air sungai Jaing memiliki arti penting dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Air sungai masih digunakan sebagian warga untuk mandi dan mencuci. Bahkan juga menjadi sumber air untuk program PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat)” tegasnya.
“Ada sekitar 75 KK yang jadi penerima manfaat air dari PAMSIMAS. Airnya dimanfaatkan warga RT 03 dan 04” sambungnya.
Menurutnya sudah ada sejumlah warga yang mengalami gatal-gatal setelah memafaatkan air sungai tersebut.
“Dampaknya yang ketahuan sudah ada yang gatal-gatal, sampai merah-merah” ucapnya.
Wardi pun meminta pada Pemerintah Daerah dan pihak terkait untuk mencarikan solusi.
“Kalau berlarut-larut kasian warga. Paling tidak ada bantuan air beraih. Untuk DLH sudah dihubungi Kepala Desa” imbuhnya.
Ia menduga pencemaran ini berasal dari daerah hulu sungai Jaing.
“Saat kami cek dari jembatan di depan pabrik Bumi Jaya, aliran air dari hulunya juga sudah berwarna coklat kehitaman. Kemungkinan dari aktifitas pertambangan di hulu sungai Jaing” ujarnya
Wardi berharap kejadian seperti ini tidak lagi terulang dimasa mendatang.
“Mudah-mudahan tidak terulang lagi, jangan sampai seperti ini. Dan apabila memang diakibatkan oleh perusahaan, ada i’tikad baik terhadap warga” harapnya.
Terpisah, Kepala Desa Masukau, Khairullah membenarkan kondisi suangai jaing yang berbeda dari kondisi normal.
“Kondisinya memang beda dari saat normal, warnanya coklat kehitaman” katanya.
Khairullah pun menyatakan pihaknya sudah menghubungi Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Dari DLH sudah turun dan mengambil sampel air di empat lokasi, titik pertama di jembatan Atuy Pertamina, titik dua jembatan Bumi Jaya, dan yang ke tiga di dekat muara sungai jaing yang jadi objek wisata dan dekat mesin pompa PAMSIMAS” terangnya.
Ia pun berharap ada solusi dari pihak terkait, termasuk bantuan air bersih.
“Air sungai ini dikonsumsi warga setelah melaui proses pengolahan di PAMSIMAS” imbuhnya.
Khairullah juga menegaskan apabila tidak ada penanganan serius dari pihak pemerintah ataupun instansi terkait akan berdampak pada keberlangsungan objek wisata sungai Jaing.
“Jelas terdampak. Dulu juga pernah dilaporkan” tukasnya.
Diketahui, aliran hulu sungai Jaing bagian hulunya berasal dari kawasan Kecamatan Upau ke atas dan muaranya yang menjadi pertemuan dengan sungai Tabalong berada di Desa Masukau. (Boel)































































