TANJUNG, kontrasx.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Tabalong kembali menghidupkan suasana akhir pekan melalui program GELAR (Gerakan Literasi) Minggu Ceria. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Simpung Layung dengan melibatkan siswa-siswi dari SDN 2 Simpung Layung, Minggu kemarin.
Kepala Dispersip Tabalong, Hj Norhayati menerangkan acara ini tidak hanya sekadar mengajak anak-anak membaca, tetapi juga mengemas literasi melalui metode yang menyenangkan seperti bercerita (storytelling) dan game edukasi.
Norhayati mengatakan program ini merupakan upaya jemput bola untuk mendekatkan buku kepada anak-anak di ruang publik.
“Kami ingin anak-anak menyenangi literasi. Melalui GELAR Minggu Ceria, kita menciptakan ekosistem belajar yang tidak kaku. Anak-anak bisa membaca di alam terbuka, bermain, sekaligus mendapatkan ilmu bermanfaat di luar kurikulum sekolah” bebernya, Senin (16/2).
Ia menegaskan program Minggu Ceria ini akan pihaknya laksanakan di seluruh Kecamatan di kabupaten Tabalong.
Hal senada juga diungkapkan Kabid Layanan Perpustakaan dan Pengembangan Koleksi Dispersip, Subhan.
Ia menjelaskan pemilihan RTH Simpung Layung bertujuan untuk memberikan suasana baru bagi para siswa.
“Fokus kami adalah transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Selain membaca dan game edukasi, kami melibatkan narasumber ahli agar anak-anak mendapatkan literasi kesehatan secara langsung” ujarnya.
Subhan pun menyatakan para siswa SDN 2 Simpung Layung antusias mengikuti kegiatan ini.
Menariknya, kali ini Dispersip juga menggandeng tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi dini mengenai penyakit menular.
“Kita hadirkan narasumber dari Puskesmas Muara Uya, Bidan Aristia Nurmawati, Am Keb. Anak-anak akan diberi pengetahuan mengenai deteksi dini dan pencegahan penyakit kulit menular, khususnya Kusta” katanya.
Terpisah, Aristia menekankan pentingnya menjaga kebersihan diri (personal hygiene) sebagai benteng utama pencegahan.
“Penyakit Kusta bisa dicegah dan disembuhkan jika dideteksi sejak dini. Kuncinya adalah peduli pada kebersihan kulit dan lingkungan. Kami mengedukasi anak-anak agar mereka mengenali tanda-tandanya dan tidak takut untuk melapor jika ada keluhan pada kulit mereka” tuturnya.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi game edukasi interaktif, dimana siswa diajak mengulas kembali materi kesehatan dan literasi yang telah disampaikan. (Boel)






























































