Tanjung, kontrasx.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja merilis peringatan dini terkait musim kemarau 2026 yang diprediksi akan tiba lebih cepat dan memiliki durasi lebih panjang dari biasanya.
Pergeseran fenomena iklim dari La Niña ke fase Netral, serta potensi kemunculan El Niño pada pertengahan tahun, menjadi alarm merah bagi beberapa wilayah di Indonesia.
Berdasarkan data nasional, Kalimantan Selatan termasuk dalam wilayah yang jadwal kemaraunya diprediksi MAJU atau lebih awal dari rata-rata klimatologisnya.
Kalsel diprediksi mulai memasuki fase kering pada rentang Mei hingga Juni 2026.
Kondisi terkering di seluruh wilayah Kalimantan Selatan diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
BMKG mengategorikan sifat kemarau tahun ini sebagai Bawah Normal, yang berarti curah hujan akan jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Durasi musim kemarau di 57,2 persen sebagian besar wilayah Indonesia,” ungkap Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.
Wilayah yang memasuki puncak musim kemarau pada Juli, meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta merambah ke sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.
Memasuki bulan Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau semakin meluas secara signifikan. Kondisi kering ini akan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua.
Pada periode September, puncak musim kemarau masih dialami di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar NTT. Selain itu, puncaknya juga akan dirasakan di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua.
Menanggapi berbagai risiko yang mungkin terjadi sepanjang musim kemarau 2026, Faisal menekankan pentingnya langkah antisipasi bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat. Di sektor pangan, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.
“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ujarnya.
Selain manajemen air, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah perlu menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” pungkasnya. (rel)































































