JAKARTA, kontrasx.com – Setelah kemarin menyambangi Kementerian Kesehatan, hari kedua di ibukota Jakarta komisi l DPRD Tabalong berkunjung ke Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) RI.
Kunjungan ini terkait dengan mekanisme pemenuhan kebutuhan ASN di Tabalong melalui Pola Pembibitan Sekolah Kedinasan.
Ketua komisi I DPRD Tabalong, H Supriani mengungkapkan tenaga statistik di Bumi Saraba Kawa masih terbilang kurang.
“Di Tabalong sendiri kita tidak banyak punya tenaga statistik, di dinas kominfo pun hanya ada satu orang saat ini, sangat kurang, beberapa SKPD lain juga butuh” bebernya pada kontrasx.com, Selasa (06/8) usai pertemuan.
Bahkan saat dibuka formasi penerimaan ASN, tapi tak ada yang mengisi.
Supriani menilai salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kerjasama pendidikan dengan BPS RI untuk menyekolahkan putra-putri Tabalong di Sekolah Tinggi Ilmu Statisik (STIS).
“Cara inilah yang coba kita jajaki dan coba tempuh” imbuhnya.
Sementara itu, perwakilan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Tabalong, Yusyarti menyampaikan pihaknya merencanakan pengusulan kebutuhan tenaga Statistik untuk tiga tahun kedepan sebanyak 6 formasi.
“Kita rencanakan usulan kebutuhan tiga tahun kedepan yakni tahun 2025 sampai 2027 kita usulkan 6 formasi ( 2 formasi per tahun). Di dua tahun terakhir formasi ini tidak ada yang mengisi” ujarnya dalam forum berdiskusi.
Ia pun mengakui pihaknya juga sudah menjalin kerjasama dengan beberapa sekolah kedinasan lainnya.
“Kita ingin juga jalin kerjasama dengan STIS BPS” tukasnya.
Terpisah, Inspektur utama BPS RI, Dadang Hardiwan mengaku senang dikunjungi komisi l DPRD Tabalong.
“Kami merasa senang, dengan seperti ini khususnya Tabalong bisa tahu dan memahami terkait ada sekolah kedinasan di BPS” jelasnya.
Dadang menuturkan sekolah kedinasan BPS berdiri sejak tahun 1958 dengan nama Akademi Statistik kemudian tahun 1998 namanya diganti menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik dan kemudian tahun 2017 berubah lagi menjadi Politeknik Statistik STIS.
Menurutnya bukan hanya Pola Pembibitan, anak-anak Tabalong lulusan SMA juga bisa ikut ujian STIS yang mana saat lulus nanti bisa kembali lagi ke daerahnya.
“Politeknik Statistik STIS ini gratis, tidak bayar sepeserpun, tidak dipungut biaya, lulusnya bisa menjadi pegawai negeri, tapi harus melalui ujian STIS (tes masuk). Di 2024 sementara jalan ini ada 350 orang ( koutanya), terkadang bisa 400 atau 500 orang, tergantung formasi dari Kementerian PAN RB” terangnya.
“Tapi kalau pola pembibitan ada kerjasama dengan pemerintah daerah dengan BPS” timpalnya.
Dadang menyatakan pola pembibitan dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mempunyai kesempatan khusus sehingga anak-anak di daerahnya bisa bersekolah di STIS.
Dia menyebutkan pola pembibitan memerlukan waktu yang cukup panjang baru bisa lulus dan bekerja.
“Ini jangka panjang, lulusannya Diploma lll dan Diploma lV. Namun untuk cara cepatnya bisa pendidikan statistik ini misal mau kursus atau pelatihan, namun bukan di Politeknik STIS tapi di Pusat Diklat BPS” katanya.
Pola pembibitan merupakan kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan sekolah kedinasan dimana semua biaya ditanggung oleh Pemda. (Boel)






























































