TANJUNG, kontrasx.com – Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Tabalong, Syam’ani mengklaim bahwa stok gas elpiji masih tersedia dan tidak ada kenaikan harga.
Syam’ani menuturkan hingga kini pihaknya belum ada menerima laporan tentang kenaikan maupun kelangkaan gas elpiji.
“Berdasarkan laporan yang kami terima belum ada kelangkaan maupun kenaikan harga yang signifikan” tuturnya, Senin (17/2).
Ia menyampaikan laporan ini pun selaras dari hasil tinjauan pihaknya di salah satu agen kelurahan Mabu’un.
“Tadi sudah kita dengarkan penjelasan dari agen bahwa untuk ketersediaan stok elpiji menjelang Ramadhan di kabupaten Tabalong insyaallah aman. Kemudian harga sesuai harga eceran tertinggi (HET) karena baik alokasi maupun pendistribusian berjalan normal” ujarnya.
Ia pun ingin para pengelola pangkalan supaya melaksanakan penyaluran dengan tertib melalui pengaturan yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
“Tadi juga disampaikan oleh agen, pengecer masih dibolehkan menjual gas elpiji tetapi diberi batasan 10 persen dari alokasi. Jadi pada pengecer kami sangat mengharapkan sekali bantuannya menjual elpiji ini kepada konsumen dengan harga yang wajar” ucapnya.
Syam’ani pun berharap pada seluruh masyarakat Tabalong supaya tetap tenang tidak terpengaruh dengan adanya isu-isu kelangkaan dan kenaikan harga gas elpiji.
Sementara itu, Manager PT Equator Yuneas Mebas Grup, Atmadi Dwi Purnomo juga menyatakan ketersediaan gas elpiji subsidi maupun non subsidi masih mencukupi di Tabalong.
“Untuk ketersediaan masih bagus dan normal tidak ada perubahan dari Pertamina, jadi setiap harinya kami menyuplai 8 truk dan insyaallah itu cukup memenuhi kebutuhan di Kabupaten Tabalong ditambah dari agen-agen lainnya. Non subsidi juga masih lumayan banyak, kalau untuk harga sesuai HET” bebernya.
Purnomo mengatakan untuk bulan Ramadhan biasanya pihaknya mendapatkan tambahan kouta.
“Untuk Ramadan biasanya Pertamina akan memberikan tambahan kouta 1 sampai 2 truk, dan itu cukup di Tabalong” katanya. (
Apa yang dirasakan Fatma (33) warga Murung Pudak justru sebaliknya, dalam beberapa pekan ini Ia terpaksa membeli gas elpiji 3 Kg dengan harga diatas Rp.40 ribu per tabungnya.
“Kalau di tingkat agen memang harga normal tapi kami mendapatkannya ditingkat pengecer dan harganya sampai lebih dari empat puluh ribu, sebelumnya kisaran tiga puluhan” ujarnya.
Perempuan ayng kesehariannya berjualan pentol membantu suaminya itu mengaku terpaksa membeli karena kebutuhan untuk usahanya.
Ia tidak mengerti mengapa harga ditingkat eceran bisa semahal itu, “Kita gak tau mas kenapa mahal” ujarnya lagi.
Namun demikian Ia bersyukur masih bisa membeli meskipun harus mencarinya lebih jauh dari tempat tinggalnya, yang penting masih bisa berjualan ungkapnya. (Can/rel)






























































