Fahrul Raji : Ini juga efek dari sosialisasi dari DP3AP2KB
TANJUNG, kontrasx.com – Meski kasus kekerasan terhadap Anak dan Perempuan di Tabalong tergolong banyak, hal tersebut tidak berdampak pada status Kabupaten Layak Anak (KLA)
Hal tersebut dijelaskan Penata Layanan Operasional UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Tabalong, Fahrul Raji.
“Kalau terkait KLA, bukan masalah angkanya. Kekerasan naik bukan menurunkan (status) KLA. Yang menyebabkan turun kalau tidak bisa menangani” jelasnya pada kontrasx.com, kemarin.
Fahrul mencontohkan tahun lalu ada 39 kasus kekerasan terhadap anak dan semuanya tertangani.
“Kalau 39 kasus tersebut misalnya ada 10 yang tidak ditangani maka ini yang akan menurunkan KLA. Kasus anak tahun 2024 selesai semua dan terlayani dengan baik, malah menaikkan nilai KLA” jelasnya.
Ia menegaskan meningkatnya angka kekerasan terhadap anak dan perempuan yang masuk ke UPTD PPA juga efek dari sosialisasi yang dilakukan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB).
“Ini juga efek dari sosialisasi dari DP3AP2KB” tandasnya.
“Bahkan ada beberapa perempuan yang baru berani speak up, kasus tahun lalu, sudah 20 tahun alami KDRT baru berani cerita dan mengadu. Ada kesadaran dan keberanian karena ada sosialisasi. Angka (kekerasan) naik, tapi ada sisi positifnya” sambungnya.
Fahrul menambahkan terkait tindak kekerasan ini pihaknya melakukan pendampingan hingga ke pengadilan.
“Kalau kasus anak kami dampingi mulai dari tingkat penyidikan hingga pengadilan” katanya.
Ia menyebutkan rentang waktu selesai pendampingan bervariasi, tergantung proses hukum yang dijalani anak.
“Bervariasi, tergantung proses hukum yang dijalani anak. Tapi kasus anak relatif lebih cepat, di Undang-Undang ada perhitungan waktunya. Satu sampai dua bulan biasanya selesai” pungkasnya. (Boel)































































