Tanjung, KontrasX.com — Jumat dini hari seharusnya menjadi waktu terlelap bagi warga Desa Namun, Kecamatan Jaro. Namun, bagi keluarga Fajar Rahmadani (3/10/25), malam itu berubah menjadi detik-detik mencekam yang berakhir dengan hilangnya tempat tinggal mereka.
Peristiwa pilu itu bermula dari sebuah kelalaian kecil di dapur. Sekitar pukul 00.30 WITA, Fajar sempat memasak air panas. Setelah itu, ia keluar rumah sebentar karena mendengar anjing menggonggong.
“Korban kembali masuk rumah dan tertidur, tanpa menyadari bahwa kompor di dapur masih menyala,” ujar PS Kasi Humas Polres Tabalong, IPTU Joko Sutrisno, mengutip keterangan korban.
Nyala api dari kompor yang terus membesar lantas membakar dinding dan rangka rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu. Api dengan cepat menyambar dan membesar, memecah keheningan Desa Namun.
Fajar terbangun dari tidurnya sekitar pukul 01.00 WITA. Bukan karena gonggongan anjing, melainkan karena hawa panas yang membakar.
Saat mata terbuka, kondisi rumahnya sudah 50% dilalap si jago merah. Dalam kepanikan, insting penyelamatan keluarga menjadi prioritas. Fajar segera membangunkan keluarganya, bergegas menyelamatkan surat-surat penting dan barang berharga yang masih terjangkau, lalu meminta pertolongan warga.
Teriakan minta tolong memicu reaksi cepat dari masyarakat. Gabungan Unit Pemadam Kebakaran Swasta (UPBS) dari Jaro, Muara Uya, Namun, bersama warga sekitar berjibaku melawan kobaran api. Berkat gotong royong yang solid, api berhasil dipadamkan total sekitar pukul 02.00 WITA.
Meskipun tidak ada korban jiwa, api tersebut meluluhlantakkan seluruh bangunan rumah. Kerugian material yang ditanggung Fajar Rahmadani diperkirakan mencapai Rp50 juta. Sumber api diduga berasal dari kompor yang lupa dimatikan tersebut.
Kapolres Tabalong, AKBP Wahyu Ismoyo J., S.I.K., M.H., M.Tr.Opsla., melalui IPTU Joko Sutrisno, menyampaikan imbauan serius agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pastikan kompor dalam keadaan mati setelah digunakan, serta periksa instalasi listrik maupun potensi sumber api lainnya sebelum beristirahat atau meninggalkan rumah,” tegas Joko.
Peristiwa ini menjadi pengingat yang menyakitkan bagi seluruh masyarakat Tabalong, bahwa kelalaian sekecil apa pun di dapur dapat berakibat fatal, merenggut harta benda, bahkan mengancam nyawa. (rel)






























































