BANJARMASIN, kontrasx.com – Di banyak sekolah, sampah plastik telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Minuman kemasan dibeli saat jam istirahat, lalu kemasannya dibuang beberapa menit kemudian. Siklus tersebut terus berulang hingga akhirnya menghasilkan tumpukan sampah yang semakin sulit dikendalikan. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut mungkin dianggap biasa. Namun, menurut Green Generation (GG) persoalan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Berangkat dari keresahan terhadap tingginya penggunaan plastik sekali pakai di kalangan pelajar, komunitas lingkungan yang digerakkan anak-anak muda ini meluncurkan program “Siap Bertumbler”. Melalui program tersebut, mereka mengajak siswa membangun kebiasaan sederhana, di antaranya membawa botol minum isi ulang dari rumah. Di balik gerakan yang tampak sederhana itu, tersimpan harapan besar untuk mengurangi sampah plastik sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia sekolah.
Green Generation Kalimantan Selatan didirikan pada September 2020, di tengah masa pandemi Covid-19. Organisasi non-pemerintah dan non-profit ini didirikan oleh tujuh pemuda Kalimantan Selatan yang sebelumnya menjadi delegasi daerah dalam Jambore Nasional Generasi Hijau 2020 yang dilaksanakan secara virtual.
Salah satu penggagasnya adalah Haris Fadillah, pemuda asal Kabupaten Balangan yang saat itu masih berusia 16 tahun. Bersama rekan-rekannya, ia membangun organisasi tersebut dengan segala keterbatasannya.
Awal berdiri, jumlah pengurus yang masih sedikit membuat berbagai program berjalan dengan tantangan yang tidak ringan. Meski demikian, semangat mereka tidak surut. Sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan, Green Generation mengadopsi tradisi Banjar Batasmiah dalam pelantikan kepengurusan pertamanya yang diberi nama Angkatan Aksata Natha, sebuah frasa Sanskerta yang berarti “pelindung lingkungan yang tidak pernah terputus”.
Seiring waktu, organisasi ini berkembang hingga menjangkau 11 Kabupaten dan dua Kota di Kalimantan Selatan. Dari berbagai isu lingkungan yang mereka tangani, persoalan sampah plastik di lingkungan sekolah menjadi salah satu fokus utama. “Awal berdirinya organisasi kami berakar dari lingkungan sekolah, maka sudah sepatutnya kami kembali ke sekolah untuk merawat kesadaran itu,” tulis tim pengamat program dalam laporan internal mereka. Keyakinan tersebut menjadi dasar lahirnya program Siap Bertumbler. Sasaran utamanya adalah siswa dan masyarakat yang sedang berada pada fase penting pembentukan karakter dan kebiasaan hidup.
Alih-alih mengandalkan seminar formal, para relawan Green Generation memilih mendatangi tempat secara langsung. Mereka mengunjungi satu daerah ke daerah lain melalui pendekatan door-to-door. Dalam kegiatan tersebut, para siswa dan masyarakat yang terlibat diajak berdiskusi mengenai dampak sampah plastik terhadap lingkungan, mulai dari pencemaran sungai hingga ancaman terhadap ekosistem yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Pendekatan yang digunakan dibuat lebih santai dan partisipatif agar mudah diterima oleh kalangan remaja. Mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak memahami bagaimana kebiasaan sehari-hari mereka berkontribusi terhadap masalah lingkungan maupun penyelesaiannya.
Perjalanan program ini dimulai di Kabupaten Balangan pada Juli hingga Agustus 2024. Pada tahun yang sama, tepatnya bulan Oktober 2024, Green Generation juga mengadakan program ini di salah satu sekolah yang berada di wilayah Kabupaten Banjar, yakni MAN 4 Banjar. Setahun kemudian, kegiatan serupa dilaksanakan di sejumlah sekolah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada September-Oktober 2025. Kini, program tersebut terus berkembang dan mulai menjangkau berbagai sekolah di Kota Banjarmasin.
Selain turun langsung ke lapangan, Green Generation juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan kampanye. Melalui tagar #CheersWithTumbler, para siswa dan masyarakat diajak membagikan foto saat menggunakan tumbler mereka. Kampanye ini menjadi cara untuk membangun kebiasaan positif sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Dampak program Siap Bertumbler tidak berhenti pada perubahan kebiasaan membawa botol minum sendiri. Di beberapa sekolah, gerakan ini turut mendorong munculnya inisiatif pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Salah satu contohnya terlihat di SMKN 4 Banjarmasin. Melalui kerja sama antara Green Generation dan pihak sekolah, botol plastik yang masih ditemukan di lingkungan sekolah tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sampah tersebut dikumpulkan dan dimanfaatkan menjadi ecobrick, yakni botol yang diisi padat dengan limbah plastik untuk digunakan kembali sebagai material pendukung berbagai kebutuhan konstruksi sederhana.
Upaya tersebut kemudian diperkuat dengan penyediaan fasilitas pendukung di sekolah. Beberapa sekolah mulai memasang keran air siap minum agar siswa dapat mengisi ulang tumbler mereka tanpa harus membeli minuman kemasan.
Meski memperoleh respons positif, perjalanan program ini belum sepenuhnya bebas hambatan. Evaluasi yang dilakukan menunjukkan masih terdapat siswa yang belum konsisten membawa tumbler setiap hari. Selain itu, keterbatasan fasilitas air bersih di sejumlah sekolah, terutama di daerah pinggiran, masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Bagi Green Generation Kalimantan Selatan, perubahan memang tidak pernah terjadi dalam semalam. Mereka memahami bahwa membangun kebiasaan baru membutuhkan waktu, kesabaran, dan keterlibatan banyak pihak. Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks, program Siap Bertumbler menunjukkan bahwa perubahan besar seringkali berawal dari langkah-langkah kecil. Dari satu botol minum yang dibawa ke sekolah, tumbuh kesadaran untuk mengurangi sampah. Dari satu kebiasaan sederhana, lahir gerakan yang melibatkan semakin banyak orang.
Anak-anak muda Banua mungkin tidak memiliki kewenangan membuat regulasi atau mengeluarkan kebijakan besar. Namun, mereka telah membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari ruang-ruang kelas dan halaman sekolah. Melalui tumbler yang dibawa dengan penuh kesadaran setiap hari, mereka sedang menanam benih masa depan yang lebih bersih, lebih hijau, dan lebih ramah bagi lingkungan.
Inisiatif seperti membawa tumbler memiliki banyak manfaat. Hal ini tentu saja dapat mengurangi jumlah sampah plastik, meningkatkan rasa kepemilikan terhadap lingkungan sekolah, dan memberikan kesempatan untuk belajar tentang pengelolaan sampah dan gaya hidup berkelanjutan.
Pesan lingkungan berubah dari teori menjadi kebiasaan sehari-hari ketika siswa dilibatkan secara aktif dalam aktivitas mereka. Perluasan program ke lebih banyak sekolah, peningkatan pendampingan, dan kolaborasi dengan kantin sekolah dan pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas pendukung adalah saran yang dapat diterima berdasarkan hasil wawancara.
Gerakan membawa tumbler memiliki potensi untuk berkembang menjadi budaya yang menyebar ke komunitas yang lebih luas dengan langkah-langkah kecil namun konsisten. Meskipun tumbler yang dipegang siswa mungkin terlihat kecil, mereka berisi janji perubahan, yaitu satu kebiasaan sehari-hari, satu sekolah, dan satu generasi yang lebih sadar lingkungan.(Rel)

































































