Tanjung, kontrasx.com — Dampak musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kalimantan mulai dirasakan masyarakat Kabupaten Tabalong. Pasokan yang menipis akibat kekeringan membuat harga sejumlah komoditas sayur-mayur di pasar tradisional melonjak tajam, bahkan rata-rata mengalami kenaikan hingga 100 hingga 200 persen.
Kenaikan drastis ini paling terasa pada komoditas mentimun. Sayuran yang biasanya dijual dengan harga normal Rp6.000 per kilogram, kini harganya melonjak drastis hingga mencapai Rp25.000 per kilogram.
Tidak hanya mentimun, sejumlah jenis sayuran harian lainnya juga ikut merangkak naik seperti Kacang Panjang biasanya Rp10.000 kini Rp18.000/kg, Terong Ungu Melonjak hingga Rp20.000/kg dan Buncis: Rp10.000 kini Rp15.000/kg
Kondisi ini dipicu oleh sulitnya para petani mengolah lahan akibat krisis air di musim kemarau. Ketergantungan Tabalong terhadap pasokan sayur dari daerah tetangga, seperti Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Selatan (HSS), makin memperparah keadaan lantaran produksi di daerah-daerah pemasok tersebut juga mengalami penurunan drastis.
Kepala Bidang Perdagangan dan Metrologi Disperindag Kabupaten Tabalong, Novi, tidak menampik tingginya lonjakan harga komoditas pangan saat ini. Menurutnya, faktor cuaca buruk dan kekeringan yang membuat rantai pasokan terganggu.
“Memang salah satu faktor utamanya adalah kemarau panjang. Petani di daerah sentra produksi mengalami kesulitan air untuk menanam sayuran, sehingga volume pasokan yang masuk ke pasar Tabalong berkurang drastis dan memicu kenaikan harga,” terang Novi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa puncak musim kemarau yang melanda wilayah Kalimantan Selatan terjadi pada bulan Agustus hingga September. (Red)
































































