TANJUNG, kontrasx.com – Terhitung dari tahun 2022 hingga tahun 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Tabalong terus mengalami penurunan.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Disnaker Tabalong, Hady Ismanto. “Secara data, ada progress. Tahun 2022 TPT ada 4,46 persen, tahun 2023 turun signifikan menjadi 3,60 persen dan tahun 2024 turun lagi menjadi 3,44 persen” jelasnya pada kontrasx.com, kemarin.
Sedang di tahun 2025 terjadi kenaikan meskipun sangat kecil.
“Tahun 2025 ada kenaikan 0,04 persen, sangat kecil, menjadi 3,48 persen” imbuhnya.
Hady mengungkapkan salah satu faktor yang menjadi penyebab kenaikan 0,04 persen tersebut adalah dampak dari penurunan produksi batu bara dan pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Sesuai data, ini karena dampak adanya penurunan produksi batu bara dan PHK” katanya.
Ia menjelaskan dengan penurunan produktivitas batu bara, terutama yang didorong oleh pemangkasan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 sebesar 40% hingga 70%, memiliki dampak domino yang signifikan terhadap sektor tenaga kerja.
“Risiko utama yang ditimbulkan adalah terjadinya PHK dan terhentinya penciptaan lowongan pekerjaan baru di sektor pertambangan” terangnya.
Hady menyatakan pemangkasan produksi yang drastis menyebabkan perusahaan tambang kesulitan menutupi biaya operasional (gaji, reklamasi, perawatan alat), sehingga risiko pengurangan tenaga kerja langsung menjadi sangat tinggi.
Ia menyebutkan diantara dampak lainnya dari penurunan produktivitas batu bara ada pada ekosistem rantai pasok, dimana dampak tidak hanya dirasakan oleh perusahaan tambang utama, tetapi juga meluas ke sub-kontraktor, perusahaan alat berat, transportasi, perkapalan, dan logistik.
“Pengurangan aktivitas tambang akan langsung mengurangi permintaan jasa pihak ketiga ini, yang berdampak pada pengurangan tenaga kerja di sektor-sektor pendukung tersebut” ujarnya.
Kondisi ini juga membuat tekanan pada ekonomi lokal, penurunan produksi berdampak langsung pada masyarakat sekitar wilayah tambang dan UMKM lokal yang bergantung pada aktivitas ekonomi tambang. (Boel)






























































