TANJUNG, kontrasx.com – Banyaknya keluhan masyarakat Tabalong yang susah mendapat pekerjaan khususnya di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Bumi Saraba Kawa juga mendapat sorotan Ketua DPD Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (Gepak) Kabupaten Tabalong, Remon Bhima Persadha.
Remon, sapaan akrabnya, menilai kouta tenaga kerja lokal yang dipekerjakan oleh perusahaan masih belum berimbang dibanding pekerja dari luar.
“Kouta tenaga kerja lokal yang dipekerjakan oleh perusahaan utamanya di Tabalong masih belum berimbang, kami belum melihat” ungkapnya pada kontrasx.com, Senin (10/11) sore.
Ia yang juga Sekretaris Komisi l DPRD Tabalong ini mengatakan pernah mendapat informasi permintaan data pada perusahaan terkait kouta pekerja lokal namun tak kunjung dipenuhi.
“Ada dapat informasi, komisi l minta data kuota tersebut tapi sampai saat ini belum terpenuhi (belum dapat), berapa sih kouta untuk Tabalong” katanya.
Politikus dari Selatan Tabalong ini pun tak menyangkal susahnya warga Tabalong ingin kerja di perusahaan.
“Itu kenyataan, di lapangan banyak orang berkeluh-kesah, bahkan ada beberapa orang yang minta saya untuk dicarikan pekerjaan di perusahaan. Di sini saja kita bisa tangkap bahwa di Tabalong pun banyak yang belum bekerja, banyak aja yang nganggur” bebernya.
Remon pun berharap pihak perusahaan bisa memprioritaskan warga Tabalong sebagai tenaga kerjanya.
“Kalau ada pemagangan, pelatihan-pelatihan, pihak perusahaan juga tolong perhatikan masyarakat yang ber KTP Tabalong” pintanya.
Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Komisi l DPRD Tabalong, Ferry Elpeni.
Ia pun melihat di media sosial keluhan warga yang kesusahan mencari lapangan kerja karena dari perusahaan cenderung merekrut pekerja dari luar.
“Kita tidak meminta untuk menutup rekrutmen dari luar, hanya saja porsinya lebih besar di kita” tandasnya.
Ferry menyampaikan sudah sejak beberapa waktu menghimbau perusahaan untuk memakai tenaga kerja lokal Tabalong.
“Selama ini yang jadi keluhan mereka (perusahaan) non skill nih, untuk itu kami harap ada koordinasi antara perusahaan dengan Pemda lewat Disnaker atau BLK” tuturnya.
“Di koordinasikan kebutuhan perusahaan apa, Disnaker atau BLK bisa memberi pelatihan pada anak muda sesuai yang dibutuhkan supaya tenaga kerja terserap banyak di Tabalong, utamanya dari ring 1 yang terdampak langsung dari aktifitas perusahaan. Tenaga kerja dari Tabalong juga bisa dominan” timpalnya.
Menurutnya dengan menjadikan warga lokal sebagai pekerja perusahaan, cost juga bakal lebih rendah.
“Perusahaan tidak perlu memfasilitasi tiket pesawat, mess dan lainnya karena domisili pekerjanya juga di Tabalong. Cuti juga tidak perlu kesana-kemari sehingga cost-nya pun lebih rendah” tukasnya. (Boel)






























































