TANJUNG, kontrasx.com – Menghadirkan dua narasumber profesional dari Jakarta, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Tabalong berusaha secara optimal mencerdaskan putra-putri Tabalong lewat Story Telling.
Story Telling kali ini mengusung tema “Membangun Literasi Melalui Bercerita” menghadirkan dua pembicara dari Pepusnas, Yudhi Firmansyah dan Sadariah Ariningrum.
Yudhi Firmansyah, sebagai pembicara pertama
membahas tentang Bercerita.
Ia memaparkan bercerita dapat dilakukan tanpa alat maupun dengan berbagai media seperti boneka, gambar, dan papan flanel untuk meningkatkan daya imajinasi anak.
“Bercerita efektif dilakukan melalui gaya dramatik dan dukungan media untuk merangsang perhatian anak” ujarnya dalam menyampaikan materi, Kamis (20/11) di Gedung Saraba Kawa Tanjung.
Yudhi menyampaikan penggunaan alat peraga dalam bercerita menambah daya tarik dan meningkatkan pemahaman anak terhadap isi cerita.
Ia menerangkan bercerita penting bagi penguatan literasi guna meningkatkan pemahaman membaca, membangun unsur Intrinsik cerita, meningkatkan keterampilan berbicara/bahasa lisan, mengembangkan berpikir kritis hingga meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa.
Dirinya juga memaparkan bagaimana bercerita bisa membangun literasi dengan memperkenalkan bahasa buku, meningkatkan kosakata, mengembangkan pemahaman teks, meningkatkan motivasi membaca dan melatih keterampilan prediksi.
“Lewat bercerita juga mampu meningkatkan kemampuan menyimak, mengasah kemampuan berbicara termasuk mendorong anak bercerita kembali” tuturnya.
Bercerita juga mampu menguatkan emosi, sosial, dan karakter Cerita mengajarkan empati.. “Anak belajar memahami sudut pandang karakter” imbuhnya.
Selain itu, Cerita juga seringkali memperkenalkan nilai budaya.
Ia juga menjelaskan peran Guru sebagai Model Literasi, Perancang Pembelajaran Literasi,
Fasilitator Bercerita dan Guru sebagai Motivator Minat Baca.
Yudhi menyebutkan ada banyak dampak positif dari bercerita terhadap literasi anak seperti
meningkatkan Kosakata, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, meningkatkan daya ingat, mengembangkan pemahaman bahasa,
mengasah berpikir kritis, memperkuat kemampuan komunikasi, melatih kemampuan mendengar, termasuk membangun minat membaca.
Adapun pembicara kedua, Sadariah Ariningrum, menerangkan tentang konsep Membaca Nyaring.
Ia menyebutkan membacakan nyaring adalah proses anak menggunakan mata, telinga, dan otak mereka untuk menerima rangkaian cerita, mendengarkan suara narator, dan memahami apa yang mereka lihat dan dengar.
Menurutnya ada 3 komponen yang harus diperhatikan dalam membaca nyaring yakni bahan bacaan, pembaca dan pendengar.
Ariningrum menyampaikan membaca nyaring meliputi 3 komponen:
“Pembaca bisa dilakukan oleh siapa saja, tetapi biasanya dibaca oleh orang yang lebih dewasa dari yang dibacakan. Pembaca menggabungkan variasi nada, kecepatan, volume, jeda, kontak mata, pertanyaan, dan komentar untuk menghasilkan penyampaian yang lancar, bermanfaat dan menyenangkan” bebernya.
Pendengar, bisa merupakan anak-anak, siswa, teman, atau bahkan orang dewasa.
“Salah satu tujuan membaca nyaring adalah supaya pendengar tertarik dan mau membaca. Oleh karena itu, penting bagi pembaca untuk memahami untuk memahami materi yang akan dibacakan” tegasnya.
Untuk bahan bacaan, bisa berupa buku cetak atau digital.
“Pembaca perlu memastikan bahwa bahan bacaan menarik dan aman untuk anak-anak, memilih bahan yang tepat sangat penting untuk keberhasilan ke kegiatan membaca nyaring” tukasnya.
Ia menambahkan selama membaca nyaring:
- Bacakan sesuai dengan yang tertulis. Jangan melebih-lebihkan atau menyingkat cerita.
- Menggunakan tanda baca yang ada untuk mengatur nada suara.
- Mengajak anak untuk membahas gambar.
- Jeda/berhenti untuk mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang alur cerita. Ini akan membantu mereka mengembangkan keterampilan pemahaman dan memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
- Jeda/ berhenti untuk menanyakan perasaan siswa, tentang pikiran dan emosi yang mungkin dimiliki tokoh. Ini akan membantu mengembangkan kecerdasan emosional dan empati.
Diketahui, kegiatan ini diikuti oleh tim penggerak PKK Kecamatan se- Tabalong, Kepala Sekolah/pengelola Perpustakaan dari semua jenjang pendidikan, pengelola Perpustakaan Desa dan komunitas Pegiat Literasi. (Boel)






























































