Tanjung, kontrasx.com -Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda tak sekadar mengisolasi jarak pandang, tetapi juga menyebarkan ancaman kesehatan tingkat tinggi.
Di balik pekatnya kabut asap tersebut, terdapat partikel mikroskopis bernama Particulate Matter 2.5 (PM2.5) yang bekerja bagai “pembunuh senyap” bagi organ pernapasan warga.
Dilansir dari ANTARA, menyikapi situasi kritis ini, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk memperketat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna membentengi daya tahan tubuh dari gempuran polusi ekstrem.
“Perlu selalu menjaga dan memelihara kesehatannya. Perilaku hidup bersih dan sehat harus terus diterapkan agar daya tahan tubuh terjaga baik, sehingga dampak asap kebakaran hutan dapat dikendalikan,” tegas Prof. Tjandra.
Apa Itu PM2.5 dan Mengapa Sangat Berbahaya?
Secara medis, PM2.5 adalah partikel udara halus berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer sekitar 30 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia. Ukurannya yang super-mikroskopis inilah yang membuat PM2.5 menjadi sangat mematikan. Bulu hidung maupun sistem penyaring alami tubuh manusia tidak sanggup menahan gempuran partikel ini saat terhirup.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini merinci mekanisme bahaya PM2.5 dan campuran toksik asap karhutla terhadap tubuh:
Menembus Alveolus Paru: Tak berhenti di tenggorokan, PM2.5 mampu meluncur bebas hingga ke alveolus—kantung udara terdalam di paru-paru tempat pertukaran oksigen terjadi.
Peradangan Sistemik via Darah: Dari alveolus, partikel ini terserap langsung ke dalam pembuluh darah. Dampaknya tak main-main: pemicu peradangan (inflamasi) sistemik yang berisiko merusak organ vital lain, termasuk jantung.
Koktail Racun Mematikan: Asap karhutla tidak hanya berisi debu, tetapi juga membawa senyawa berbahaya seperti nitrogen dioksida, ozon, hidrokarbon aromatik, dan sisa pembakaran organik yang membentuk campuran toksik bagi sel-sel tubuh.
Mengingat tingginya risiko kerusakan jangka panjang akibat PM2.5, Prof. Tjandra menekankan pentingnya membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak. Masker kain biasa dipastikan tidak cukup kuat menyaring partikel mikroskopis ini.
Bila terpaksa harus beraktivitas di daerah terdampak karhutla, masyarakat sangat disarankan memakai masker dengan standar filtrasi tinggi, seperti N95 atau jenis respirator.
Langkah perlindungan fisik ini, dipadukan dengan menjaga daya tahan tubuh, menjadi benteng utama agar warga tidak menjadi korban berikutnya dari gempuran polusi asap. (Red)

































































Comments 1