TANJUNG, kontrasx.com – Dampak dari El Nino tahun ini adalah kemarau lebih panjang dan lebih kering. Akibatnya, banyak petani hortikultura khususnya di Kabupaten Tabalong mengalami gagal produksi karena kekurangan air.
Ketua Tim Kerja Penyuluhan Kabupaten Tabalong, Hotim menjelaskan melihat kondisi tersebut, DKPPP berinisiatif melakukan sosialisasi irigasi tetes air tanaman hortikultura.
“Prinsif dasarnya memberi air (pada tanaman) sesuai kondisi lingkungan, melakukan penyiriman dengan tetesan-tetesan” jelasnya pada kontrasx.com Jum’at (30/10).
Menurutnya tanaman yang disiram begitu saja hanya beberapa persen saja yang terserap, selebihnya menguap karena cuaca panas.
“Dengan cara diberi tetesan demi tetesan lebih efektif. Air tidak berlebihan dan lebih hemat” ujarnya.
Hotim mengatakan alat yang dipergunakan juga bisa memanfaatkan barang bekas seperti botol air mineral.
“Alat yang digunakan kalau secara teknis ada menggunakan rangkaian, tapi lebih mahal. Kita bisa memanfaatkan barang bekas seperti botol yang dibuatkan lubang penetes, ini lebih murah” bebernya.
“Barang bekas mudah di dapat, juga mengurangi sampah” sambungnya.
Ia menyatakan sejauh ini sudah ada beberapa petani yang menggunakan metode ini.
“Sudah ada beberapa petani yang menerapkannya” imbuhnya.
Pihaknya pun sudah mensosialisasikannya ke petani baik di wilayah Selatan, Tengah maupun Utara Kabupaten.
Hotim pun berharap hal ini bisa menjadi solusi ditengah kendala kekurangan air saat kemarau.
“Kalau diterapkan skala besar keluhannya adalah sumber air. Petani berharap ada andil dari pemerintah seperti membuat sumur bor sehingga produksi bisa terus berjalan” tuturnya.
Dirinya pun tak menampik saat ini tingkat produksi tanaman hortikultura khususnya jenis sayuran turun drastis.
“Petani tidak bisa menanam, kalau pun bisa tapi gagal panen” pungkasnya. (Boel)
































































